Halo, Travellers! Bagaimana kabar rencana perjalanan kalian tahun ini? Kalau bicara soal destinasi yang nggak pernah membosankan, wisata kuliner Magelang selalu punya tempat spesial di hati aku. Kota ini bukan cuma soal kemegahan Candi Borobudur saja, tapi juga tentang udara paginya yang sejuk, keramahan penduduknya, dan deretan tempat makan yang membuat pengalaman kuliner terasa begitu personal. Beberapa waktu lalu, aku kembali berkeliling Magelang untuk menikmati wisata kuliner Magelang, sebuah pengalaman yang kini semakin terasa relevan dalam lanskap kuliner Magelang 2026, sambil mencari sudut-sudut baru yang nyaman buat bersantai dan mencicipi ayam bakar Magelang yang sudah lama dikenal dengan cita rasa khas serta kehangatan bumbunya.
Belakangan ini, Magelang terasa makin dewasa sebagai destinasi kuliner yang ramah bagi berbagai selera. Banyak tempat makan bermunculan, namun tetap menjaga sentuhan tradisional dan keselarasan dengan alam sekitar—sebuah ciri kuat dari kuliner Magelang 2026 yang tidak kehilangan identitasnya. Menikmati sepiring nasi hangat dengan ayam bakar Magelang berbumbu meresap sambil memandang sawah atau perbukitan Menoreh menjadi pengalaman khas dalam perjalanan wisata kuliner Magelang yang menurutku sulit digantikan. Kali ini, aku ingin berbagi beberapa tempat makan yang sempat aku singgahi, mulai dari yang legendaris hingga spot dengan sudut pandang estetik untuk mengabadikan momen perjalanan kalian.
Baca Juga: Tempat Outing Edukatif dekat Borobudur: Ide Outing Class yang Nggak Bikin Panitia Pusing
Menemukan Kehangatan Rasa di Ayam Bakar Pak Joe ‘Dag dan Mbah Mo

Perjalanan kulinerku kali ini aku mulai dari pusat kota Magelang sebelum bergerak ke kawasan Borobudur dan perbukitan Menoreh. Dalam peta kuliner Magelang 2026, rasanya belum lengkap menikmati kuliner Borobudur dan sekitarnya tanpa mampir ke Ayam Bakar Pak Joe ‘Dag. Tempat ini punya sejarah panjang dan menjadi salah satu titik makan favorit warga lokal. Yang paling aku suka adalah aroma ayam bakarnya—dipanggang dengan teknik tradisional hingga bumbunya terkaramelisasi sempurna, dagingnya tetap lembut, dengan rasa manis khas Jawa Tengah yang sopan di lidah namun kaya rempah. Pengalaman ini, menurutku, merepresentasikan karakter kuliner Magelang 2026 yang setia pada akar tradisi.
Bergeser sedikit ke arah Borobudur, aku menyempatkan diri mampir ke Ayam Panggang Mbah Mo yang cukup dikenal sebagai salah satu tujuan ayam bakar Magelang dengan cita rasa rumahan yang autentik. Lokasinya yang berada di sekitar kawasan candi membuat tempat ini mudah dijangkau setelah seharian berkeliling menikmati wisata. Ayam panggang di sini punya karakter yang berbeda, dengan teknik memasak tradisional yang menghasilkan tekstur kulit khas dan rasa yang meresap hingga ke dalam. Suasana makannya sederhana dan hangat, sangat cocok bagi Travellers yang ingin menikmati kuliner khas Magelang sambil bersantai di jalur kuliner Borobudur yang tenang dan bersahaja.
Menikmati Ayam Bakar Nusantara dengan View Perbukitan

Kalau Travellers mencari pengalaman yang lebih dari sekadar rasa, coba arahkan kendaraan menuju kawasan Bukit Rhema cocok untuk wisata kuliner magelang.Di sini terdapat Kedai Bukit Rhema, salah satu destinasi ayam bakar Bukit Rhema yang menurutku punya konsep sangat matang. Aku sempat mencoba menu Ayam Bakar Nusantara-nya, dan yang paling menonjol adalah kekayaan bumbunya. Rempah-rempah khas Indonesia terasa menyatu dalam setiap gigitan, dengan tekstur daging yang empuk serta sambal bercita rasa pedas seimbang, cocok dinikmati di udara perbukitan yang cenderung sejuk.
Yang membuat Kedai Bukit Rhema semakin istimewa adalah lokasinya yang strategis di ketinggian. Kita bisa makan sambil menikmati hamparan perbukitan Menoreh, menjadikannya salah satu tempat makan Magelang view bagus yang layak masuk daftar kunjungan. Area ini juga dikenal sebagai spot foto kuliner Magelang karena berada satu kawasan dengan bangunan ikonik Gereja Ayam. Setelah makan, Travellers bisa mengeksplorasi banyak sudut estetik untuk berfoto. Area duduknya pun beragam, namun bagian terbuka tetap menjadi favorit karena memungkinkan kita merasakan langsung hembusan angin dan aroma khas tanah pegunungan.
Pedasnya Ayam Panggang di Tengah Hamparan Sawah Omahe Mas Manto
Puas dengan suasana perbukitan, aku mencari suasana yang sedikit berbeda namun tetap dekat dengan alam. Pilihan jatuh pada Omahe Mas Manto 1986. Tempat ini cukup populer bagi mereka yang menyukai olahan ayam panggang dengan cita rasa pedas yang berani. Berbeda dengan ayam bakar Jawa pada umumnya yang dominan manis, di sini bumbunya lebih menonjolkan rasa gurih-pedas yang meresap hingga ke tulang.
Hal lain yang aku apresiasi dari Omahe Mas Manto 1986 adalah vibe tempatnya. Bangunannya memiliki sentuhan klasik, dan yang paling juara adalah pemandangan sawahnya. Bayangkan makan siang dengan latar belakang hamparan hijau yang luas dan pegunungan di kejauhan. Desain interiornya yang punya nuansa tahun 80-an memberikan kesan nostalgia yang kental, cocok banget buat Travellers yang hobi memotret sudut-sudut estetik yang punya cerita.
Lihat Lokasi :
Berburu Golden Hour di Mahkota Bukit Rhema

Nah, setelah kenyang berwisata kuliner, biasanya aku akan mencari tempat untuk menutup hari. Di Magelang, salah satu momen yang paling aku tunggu adalah golden hour. Cahaya matahari sore yang berwarna jingga keemasan selalu berhasil membuat suasana jadi syahdu. Salah satu spot terbaik untuk mendapatkan pemandangan ini adalah di area Mahkota Bukit Rhema atau di sekitar perbukitan Borobudur-Menoreh.
Di Kedai Bukit Rhema sendiri, ada area deck terbuka yang didesain khusus agar pengunjung bisa menikmati pemandangan secara leluasa. Saat matahari mulai turun, langit di atas Menoreh berubah warna menjadi gradasi yang luar biasa cantik. Ini adalah waktu terbaik untuk mengeluarkan kamera dan mengabadikan momen. Tips dari aku, datanglah sekitar jam 4 sore agar Travellers punya waktu untuk memesan camilan dan minuman hangat sebelum pertunjukan alam dimulai. Suasana hening dan tenang di sini benar-benar obat stres yang ampuh.
Tips Menikmati Waktu di Magelang Lebih Maksimal

Selama beberapa hari di Magelang, aku menyadari bahwa menikmati kota ini nggak perlu terburu-buru. Kalau Travellers berencana mengikuti rute kuliner ini, sebaiknya gunakan kendaraan yang fit karena jalanan menuju area perbukitan seperti Bukit Rhema cukup menanjak namun kondisinya sudah sangat bagus. Jangan lupa juga untuk selalu membawa jaket tipis, karena meskipun siang hari terasa terik, sore harinya udara bisa berubah menjadi sangat sejuk.
Satu hal lagi, kalau ingin mampir ke tempat-tempat populer seperti Kedai Bukit Rhema atau Omahe Mas Manto di akhir pekan, ada baiknya datang lebih awal supaya bisa mendapatkan spot duduk dengan view terbaik. Magelang di tahun 2026 tetap menjadi rumah yang ramah bagi siapapun, dan mencicipi setiap hidangan ayam bakarnya adalah cara terbaik untuk mengenal lebih dalam kekayaan rasa yang ditawarkan kota ini.
Catatan Perjalanan Kuliner di Magelang
Menjelajahi Magelang lewat deretan kedai ayam bakarnya memberikan perspektif baru buat aku bahwa makanan bukan sekadar pengganjal perut, tapi juga penghubung kita dengan alam dan tradisi setempat. Mulai dari rasa legendaris Pak Joe ‘Dag hingga estetika yang ditawarkan Bukit Rhema, semuanya memberikan cerita yang berbeda-beda. Jadi, kapan Travellers punya rencana untuk mampir dan merasakan sendiri kehangatan di Magelang? Semoga cerita pendek ini bisa membantu kalian menyusun daftar perjalanan kuliner yang berkesan nanti ya!



