Day 6 – Ubud – Check-in Maya Ubud, habis Campuhan Ridge Walk. Badan masih agak lengket kena keringat, tapi perut mulai mengingatkan kalau sudah waktunya diisi lagi. Saya dan keluarga sepakat mencari sesuatu yang ikonik, yang memang “harus dicoba sekali seumur hidup” kalau lagi di Bali. Akhirnya, arah kaki dan motor mengarah ke satu nama legendaris: babi guling Ibu Oka di pusat Ubud, dengan niat lapar sedang, icip ikon kuliner yang sering diceritakan banyak orang.
Kenapa Saya Akhirnya Mampir ke Babi Guling Ibu Oka Ubud?
Ubud itu identik dengan banyak hal: sawah hijau, galeri seni, sampai café-café cantik. Tapi di tengah semua itu, babi guling Ibu Oka punya status lain — lebih ke “ritual wajib” buat pecinta kuliner non-halal yang mampir ke Ubud. Dari dulu saya sering dengar namanya disebut sebagai salah satu pelopor babi guling modern yang naik daun di kalangan wisatawan.
Setelah jalan pagi di Campuhan Ridge Walk dan check-in di Maya Ubud, momen itu pas banget untuk makan agak berat, tapi masih di jam yang nyaman: rentang pagi–siang. Babi guling memang terasa paling enak dimakan saat perut belum terlalu penuh, jadi rasa rempah dan gurihnya bisa dinikmati pelan-pelan.
Yang bikin saya penasaran tentu kulit renyahnya. Banyak cerita bilang, “ Kalau ke Ibu Oka, jangan berharap plating cantik, tapi fokus ke kulit yang kriuk dan lawarnya.” Kombinasi kulit, daging, dan lawar ini yang langsung membuat saya merasa, “Oke, ini harus dicoba langsung, bukan cuma didengar ceritanya.”

Pengalaman Menikmati Seporsi Babi Guling Ibu Oka Ubud di Jam Ramai
Begitu sampai di area pusat Ubud, suasana langsung terasa padat. Warungnya tidak besar-besar amat, tapi sudah cukup untuk menampung aliran tamu yang datang dan pergi. Saya sampai di sekitar jam 11 lewat sedikit, pas memasuki jam yang mulai ramai.
Baca juga : Bebek Crispy di Bebek Bengil Ubud: Renyah, Nyaman, dan View Sawah yang Bikin Betah
Dari Pesan Sampai Makan: Alur yang Cukup Terukur
Setelah melihat menu yang cukup sederhana, saya memilih porsi campur standar — biasanya isiannya lebih komplit dan cocok untuk yang baru pertama kali mencoba. Waktu menunggu pesanan di hari itu sekitar 10–20 menit. Bukan yang super cepat, tapi masih wajar mengingat ini jam yang ramai dan semua orang tampak datang dengan perut lapar.
Selama menunggu, saya sempat memperhatikan ritme di dalam: piring-piring disusun, nasi dituang, daging dan kulit dipotong, lalu lawar dan sayur pelengkap ikut mendarat di piring. Buat saya, bagian menariknya justru ada di proses ini: sederhana, manual, tapi terasa berpengalaman. Mereka seperti sudah hafal betul ritme jam ramai 11.00–13.00.
Total durasi saya di lokasi sekitar 40–60 menit, termasuk waktu memilih tempat duduk, menunggu, makan pelan-pelan, dan sedikit rehat sebelum kembali ke motor. Cukup untuk benar-benar menikmati, bukan sekadar mampir foto lalu pulang.
Rasa dan Tekstur: Kulit Renyah, Lawar yang Mengikat Semuanya
Begitu piring datang, yang paling menarik mata jelas kulit babi gulingnya. Potongannya tidak selalu simetris, tapi itu justru menambah kesan “tradisional” dan apa adanya. Saat digigit, ada suara kriuk halus, tidak terlalu keras, tapi cukup untuk memberikan sensasi renyah yang dicari banyak orang.
Dagingnya sendiri terasa gurih dengan rempah yang tidak berlebihan. Bukan tipe bumbu yang menonjok, tapi lebih ke rasa yang pelan-pelan mengisi mulut. Lawar di sampingnya bertugas sebagai pengikat rasa: sedikit segar, sedikit gurih, dan ada sentuhan bumbu yang membuat piring terasa hidup, tidak monoton daging semua.
Sambalnya memberi tendangan yang cukup berani. Untuk kamu yang tidak terlalu tahan pedas, makan sambal ini pelan-pelan saja. Digabung dengan nasi hangat, daging, kulit, dan lawar, rasanya cukup lengkap. Bukan sekadar “makan daging”, tapi sebuah pengalaman satu piring.

Info Praktis: Jam Ramai, Parkir, dan Sedikit Sejarah Singkat tentang Babi Guling Ibu Oka Ubud
Buat kamu yang suka pertimbangkan hal-hal teknis sebelum makan, beberapa catatan ini bisa membantu.
Lihat Lokasi : Googlemaps
Jam Ramai dan Waktu yang Lebih Santai
Dari pengamatan saya, jam 11.00–13.00 adalah puncak keramaian. Kursi bergantian diisi, dan pesanan mengalir terus. Kalau kamu datang di rentang ini, siapkan diri untuk sedikit menunggu dan suasana yang cenderung padat.
Sebaliknya, kalau ingin suasana yang sedikit lebih tenang, biasanya sebelum jam 11 atau sudah lewat jam makan siang suasana cenderung lebih longgar. Tetap ada tamu, tapi tidak seintens jam sibuk.
Parkir: Terbatas Tapi Bisa Diakali
Karena lokasinya di pusat Ubud, parkir motor dan mobil memang terbatas. Area sekitar dipadati kendaraan tamu, kendaraan lokal, dan aktivitas jalanan yang cukup ramai. Kalau bawa motor, kamu punya sedikit fleksibilitas untuk “selip” di beberapa sudut parkir yang tersedia.
Untuk mobil, lebih nyaman kalau kamu siap jalan kaki sedikit dari area parkir yang lebih lapang, lalu lanjut jalan santai ke lokasi. Anggap saja bagian dari pengalaman eksplor Ubud yang memang sering mengajak kita untuk lebih banyak berjalan kaki.
Sudah Lama Babi Guling Ibu Oka Ubud Menemani Ubud
Babi guling Ibu Oka sudah berdiri sejak sekitar ±1980-an. Artinya, tempat ini bukan sekadar “tempat hits musiman”, tapi bagian dari perjalanan panjang kuliner Ubud. Ada banyak babi guling baru bermunculan, tapi nama Ibu Oka masih sering muncul ketika orang bertanya, “Kalau babi guling di Ubud, enaknya di mana?”
Faktor ini membuat pengalaman makan di sini terasa seperti mencicipi sedikit sejarah: paduan antara warung tradisional dan arus wisata modern yang terus datang setiap tahun.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan Babi Guling Ibu Oka Ubud
Saya sempat ngobrol singkat dengan salah satu karyawan di sela-sela jam sibuk. Obrolannya ringan, tapi cukup menjawab beberapa pertanyaan yang sering ada di kepala pengunjung.
- Porsi campur isi apa saja?
Biasanya seporsi nasi babi guling campur sudah berisi nasi, potongan daging, kulit, sedikit lawar, sayur pelengkap, dan sambal. Versi ini cocok buat kamu yang ingin “paket lengkap” tanpa ribet pilih satu-satu. - Pedasnya bisa diatur nggak?
Bisa. Sambal bisa dibuat lebih sedikit, dipisah, atau kamu makan pelan-pelan sesuai selera. Jadi kalau datang dengan teman yang beda level pedas, masih aman. - Jam paling sepi itu kapan?
Katanya, relatif lebih lengang sebelum jam 11 dan setelah lewat jam 13.00. Tentu tetap ada tamu, tapi tidak sedominan jam makan siang. - Tips parkir gimana?
Kalau bisa, datang dengan motor atau siap parkir sedikit lebih jauh lalu jalan kaki ke warung. Di pusat Ubud, fleksibel sedikit soal parkir akan bantu kamu tetap waras dan tidak buru-buru.
Obrolan singkat seperti ini membantu saya merasa lebih nyaman. Rasanya beda dibanding hanya datang, makan, lalu pergi.
Babi Guling Ibu Oka vs Gung Cung: Kalau Punya Waktu, Kenapa Tidak Coba Dua-duanya?
Nama yang sering muncul sebagai “pembanding” adalah Gung Cung. Keduanya sama-sama menyajikan babi guling khas Bali dan punya penggemarnya masing-masing. Babi guling Ibu Oka lebih dulu dikenal luas, terutama di kalangan wisatawan yang baru pertama kali ke Ubud.
Kalau kamu tipe yang suka eksplor kuliner, sebenarnya sah-sah saja menjadikan keduanya sebagai destinasi berbeda di hari yang berbeda. Di Ibu Oka, kamu bisa merasakan nuansa ikonik dan ramai, lalu suatu saat mencoba Gung Cung untuk melihat versi lain dari babi guling Bali.
Bukan soal mana yang “paling benar” atau “paling enak”, tapi lebih ke: mana yang paling cocok dengan selera kamu. Lidah setiap orang punya preferensi sendiri, dan itu justru yang membuat eksplor kuliner jadi menarik.
Tips Kunjungan: Biar Makan Babi Guling di Ubud Makin Nyaman
Supaya pengalaman kamu di babi guling Ibu Oka berjalan lebih mulus, beberapa tips ini mungkin berguna:
- Pilih jam datang yang pas
Kalau kamu kurang suka keramaian, coba datang sebelum jam 11 atau agak lewat jam makan siang. Masih di rentang pagi–siang yang ideal untuk makan babi guling, tapi atmosfer sedikit lebih santai. - Siapkan waktu sekitar 40–60 menit
Jangan datang dalam kondisi super terburu-buru. Sisihkan waktu untuk antre, menunggu pesanan 10–20 menit, lalu menikmati makan tanpa harus melihat jam terus. - Sesuaikan level pedas
Kalau kamu tidak terlalu kuat pedas, minta sambal dipisah. Dengan begitu kamu bisa mengatur sendiri seberapa banyak sambal yang mau diambil di tiap suapan. - Pertimbangkan bawa anak atau keluarga
Porsi campur cukup mudah untuk di-share. Kamu bisa pesan beberapa porsi lalu berbagi isi, terutama kalau datang dengan keluarga dan ingin semua orang bisa icip sedikit-sedikit. - Parkir dengan strategi
Di pusat Ubud, parkir memang tantangan tersendiri. Kalau bisa, pakai motor. Kalau harus bawa mobil, siap berjalan sedikit dari titik parkir yang lebih lega.
Dengan sedikit strategi, pengalaman makan babi guling di tengah ramainya Ubud bisa terasa jauh lebih nyaman.
Jadi Wajib Banget ke Babi Guling Ibu Oka Ubud, Nggak?
Buat saya, jawabannya: wajib dicoba setidaknya sekali, terutama kalau kamu sudah sampai Ubud dan memang mengonsumsi daging babi. Ada tiga hal yang membuat tempat ini layak masuk itinerary kuliner kamu:
- Ikonik – Bukan sekadar warung babi guling, tapi bagian dari cerita panjang kuliner Ubud sejak ±1980-an.
- Renyah – Kulit babi gulingnya memberi pengalaman kriuk yang sulit didapat di banyak tempat lain.
- Khas – Lawar, daging, kulit, sambal, dan nasi disatukan dalam satu piring yang terasa sangat “Bali”.
Apakah babi guling Ibu Oka akan jadi favorit nomor satu versi kamu? Itu urusan selera. Tapi sebagai pengalaman kuliner, terutama setelah jalan pagi di Campuhan Ridge Walk atau eksplor sekitar Ubud, duduk sebentar di sini, menunggu 10–20 menit, lalu menikmati seporsi babi guling di jam pagi–siang adalah sesuatu yang terasa sangat “pas” dilakukan.
Kalau kamu sedang menyusun daftar tempat makan di Ubud, menurut saya, babi guling Ibu Oka pantas ada di salah satu baris teratas. Ikonik, renyah, dan khas — tiga kata yang cukup menjelaskan kenapa warung ini masih terus dicari sampai sekarang.



