Perjalanan Pagi Demi Semangkuk Kehangatan di Solo
Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa sarapan adalah bahan bakar paling penting untuk memulai hari. Namun bagi saya dan keluarga, sarapan kadang bukan sekadar urusan perut, melainkan sebuah perjalanan emosional dan petualangan rasa. Pagi itu, tepat pukul 05.30 WIB, kami memutuskan untuk memacu kendaraan dari Magelang menuju Kota Solo. Tujuannya hanya satu: menikmati semangkuk Soto Gading Solo yang legendaris. Udara pagi Magelang yang dingin perlahan berganti dengan semburat jingga di ufuk timur saat kami melintasi jalanan antar kota yang masih cukup lengang.

Perjalanan dari Magelang ke Solo kini terasa jauh lebih cepat berkat adanya akses jalan tol. Kami memilih rute melewati Tol Prambanan dan keluar di pintu tol Solo. Namun, ada satu hal yang cukup mengejutkan bagi kantong saya pagi itu. Biaya tol yang harus dibayarkan mencapai Rp75.000. Untuk sebuah perjalanan sarapan, angka ini mungkin terdengar cukup mahal bagi sebagian orang. Saya sempat bergumam dalam hati, “Wah, harga tolnya saja sudah bisa buat beli beberapa porsi soto nih!”. Tapi rasa penasaran dan kerinduan akan cita rasa kuliner Solo mengalahkan logika biaya tersebut.
Menembus Keramaian di Warung Soto Gading
Setibanya di Solo, suasana kota sudah mulai menggeliat. Kami langsung menuju kawasan Gading. Warung Soto Gading ini memang sudah tidak asing lagi bagi para pecinta kuliner nusantara. Tempat ini sering kali dikunjungi oleh tokoh-tokoh penting, mulai dari pejabat hingga Presiden Indonesia. Memasuki area warung, aroma kuah kaldu yang gurih langsung menyambut indra penciuman kami. Suasana di dalam sangat ramai, riuh rendah suara sendok beradu dengan mangkuk, serta percakapan hangat dari keluarga-keluarga yang sedang menikmati santapan mereka.

Meskipun ramai, pelayanan di sini tergolong sangat cepat dan cekatan. Saya segera mencari meja yang kosong untuk keluarga. Begitu duduk, mata saya langsung tertuju pada deretan gorengan dan sundukan (sate-satean) yang tertata rapi di atas meja. Inilah salah satu keunikan makan soto di Solo; godaan terbesarnya bukan hanya pada sotonya, tapi pada pendampingnya yang sangat beragam. Untuk lokasinya sendiri, kamu bisa dengan mudah menemukannya melalui bantuan Google Maps dengan mengetikkan Soto Gading Solo.
Review Rasa: Soto Daging yang Bersih dan Gurih
Pesanan saya pagi itu adalah soto tanpa kulit, alias full daging. Saya memang lebih menyukai tekstur daging sapi yang padat tanpa campuran lemak atau kulit yang kenyal. Ketika mangkuk soto tiba, tampilannya sungguh menggugah selera. Kuahnya bening, tipikal soto Solo yang tidak menggunakan santan namun kaya akan rempah. Di dalamnya terdapat potongan daging sapi yang melimpah, soun, tauge, dan taburan bawang goreng serta seledri.
Suapan pertama langsung memberikan ledakan rasa gurih yang lembut di lidah. Kaldu sapinya terasa sangat kuat namun tetap terasa ringan di perut. Dagingnya empuk, dipotong dengan ukuran yang pas sehingga mudah dikunyah. Yang paling menarik adalah reaksi istri saya. Awalnya dia ragu apakah perjalanan jauh ini sepadan, namun setelah mencoba beberapa suap, dia malah memutuskan untuk menambah satu porsi lagi! Ini adalah bukti otentik bahwa rasa Soto Gading memang tidak main-main. Menurut informasi dari Wikipedia, variasi soto di Indonesia memang sangat beragam, dan soto jenis bening seperti di Gading ini memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

Camilan Pendamping: Sosis Solo dan Pia-pia
Makan soto di sini rasanya kurang lengkap jika tidak mencicipi camilannya. Saya mengambil Sosis Solo, camilan khas yang terbuat dari dadar telur tipis berisi daging ayam suwir yang gurih. Teksturnya lembut di luar dan padat di dalam. Namun, primadona di meja kami pagi itu adalah Pia-pia. Bagi kamu yang belum tahu, Pia-pia di sini bentuknya unik, sekilas menyerupai dorayaki namun ini adalah makanan gurih. Isinya adalah campuran sayuran dan daging yang digoreng dengan tepung. Rasanya renyah di pinggir dan empuk di tengah, memberikan kombinasi tekstur yang sempurna saat dimakan bersama kuah soto.
Selain Pia-pia, masih banyak pilihan lain seperti sate paru, sate uritan, tempe goreng, dan perkedel. Tapi saya sarankan jangan kalap, karena setiap piring kecil yang kamu ambil akan dihitung saat pembayaran nanti. Meskipun begitu, sulit rasanya untuk menahan diri tidak mencicipi satu per satu jajanan yang menggoda tersebut.
Es Teh Kampul: Kesegaran Khas Kota Bengawan
Sebagai penutup santapan yang luar biasa ini, saya memesan Es Teh Kampul. Ini bukan sekadar es teh jeruk biasa. Di Solo, teh yang digunakan memiliki karakteristik “wasgithel” (wangi, panas, legi/manis, dan kenthel/kental). Es Teh Kampul disajikan dengan potongan jeruk peras atau jeruk nipis yang diambangkan (dikampulkan) di dalam gelas. Rasa sepat dari teh berpadu dengan manisnya gula asli dan asam segar dari jeruk memberikan sensasi yang sangat menyegarkan tenggorokan setelah menyantap makanan berminyak.

Tips Berkunjung ke Soto Gading Solo
Berdasarkan pengalaman saya berkunjung ke sini bersama keluarga, ada beberapa tips yang bisa kamu terapkan agar pengalaman kulinermu lebih maksimal:
- Datanglah Lebih Pagi: Warung ini sudah buka sejak pagi buta. Saya sarankan datang sebelum jam 8 pagi. Selain udaranya masih segar, sajian gorengan dan sundukannya masih sangat lengkap. Jika datang terlalu siang, beberapa menu favorit seperti Pia-pia atau sate tertentu mungkin sudah habis terjual.
- Masalah Parkir: Jangan khawatir jika kamu membawa mobil pribadi. Meskipun lokasinya berada di pinggir jalan yang cukup padat, terdapat banyak ruang parkir di sepanjang bahu jalan yang dikelola dengan baik oleh juru parkir setempat. Aksesnya pun cukup mudah dijangkau dari pusat Kota Solo.
- Wajib Coba Es Teh Kampul: Seperti yang saya ceritakan tadi, ini adalah minuman wajib. Jangan hanya memesan teh manis biasa, mintalah “Es Teh Kampul” untuk merasakan sensasi otentik minuman khas Solo.
- Siapkan Budget Tol: Jika kamu datang dari arah Yogyakarta atau Magelang via tol, pastikan saldo e-toll kamu mencukupi. Seperti pengalaman saya, biaya tol keluar Solo via Prambanan bisa mencapai Rp75.000 (tarif bisa berubah sewaktu-waktu tergantung kebijakan pengelola jalan tol).
Estimasi Harga dan Kesimpulan
Untuk masalah harga, makan di Soto Gading Solo tergolong masih cukup terjangkau untuk ukuran warung legendaris. Satu porsi soto dibanderol dengan harga kisaran belasan ribu rupiah. Yang membuat tagihan menjadi “lumayan” biasanya adalah jumlah camilan dan gorengan yang kita ambil di meja. Rata-rata, per orang bisa menghabiskan sekitar Rp30.000 hingga Rp50.000 sudah termasuk minum dan beberapa jenis sate atau gorengan. Harga yang sangat sepadan dengan rasa dan suasana yang didapatkan.
Kesimpulannya, meskipun harus menempuh perjalanan jauh dari Magelang dan membayar tol yang lumayan mahal, kunjungan ke Soto Gading Solo selalu memberikan kepuasan tersendiri. Melihat istri saya nambah porsi dan anak-anak lahap memakan sosis solo sudah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai. Solo memang selalu punya cara untuk memanjakan lidah setiap pengunjungnya melalui kesederhanaan rasa yang mendalam. Jika kamu sedang berada di Solo atau merencanakan liburan ke sana, pastikan Soto Gading masuk dalam daftar wajib kunjunganmu!
Terima kasih sudah mengikuti cerita perjalanan kuliner keluarga kami. Sampai jumpa di review kuliner dan petualangan travel berikutnya. Jangan lupa share pengalamanmu juga ya kalau sudah pernah mampir ke sini!



