HomeBlogTravelBubur Seafood di Warung Laota (Tuban): Sarapan Hangat Setelah Lari Pagi di...

Bubur Seafood di Warung Laota (Tuban): Sarapan Hangat Setelah Lari Pagi di Kuta

Saya memulai hari pertama di Kuta dengan lari pagi menyusuri Pantai Kuta, lalu kembali ke hotel untuk bersih-bersih dan check-in di The Stones Legian. Perut sebenarnya masih kenyang sisa sarapan, tapi ada keinginan mencari sesuatu yang hangat dan ringan. Itulah alasan saya melipir ke Warung Laota di kawasan Tuban—tempat yang sejak lama dikenal dengan bubur seafood gaya Hong Kong dan aneka seafood segar. Saya ingin tahu, sehangat apa semangkuk bubur bisa memeluk pagi Kuta yang sibuk.


Kenapa Saya Datang

Di Kuta–Tuban, pilihan sarapan cepat itu banyak, tetapi jarang yang menawarkan bubur Hong Kong dengan topping laut yang serius. Warung Laota sudah lama disebut-sebut orang sebagai “rute wajib” buat yang ingin mangkuk bubur lembut, gurih, dan tidak bikin enek. Lokasinya strategis untuk kamu yang menginap di kawasan Kuta–Legian, aksesnya dekat jalan besar, dan suasananya akrab untuk keluarga. Ekspektasi saya sederhana: semangkuk bubur yang hangat, rasa bersih, dan proses pemesanan yang tidak berbelit—pas untuk jeda singkat sebelum agenda berikutnya di Bali.

Lihat lokasi : Google Maps


Pengalaman Makan: Hangat, Gurih, Bersih – Bubur Seafood

Saya memesan bubur gaya Hong Kong dengan kombinasi seafood, lalu meminta kuah disajikan panas. Prosesnya ringkas: pilih varian, sebut tingkat kekentalan bila perlu, dan tentukan topping tambahan. Waktu tunggu sekitar 5–10 menit, cukup ideal untuk sarapan yang tidak ingin menghabiskan banyak waktu. Karena ini adalah santap pagi, suhu bubur yang hangat terasa menenangkan setelah tubuh dipakai berlari—uapnya menguar, membawa aroma kaldu laut yang bersih.

bubur seafood
Bubur Seafood

Tekstur buburnya halus—bukan tipe bubur yang terlalu cair, tetapi juga tidak padat. Di sendokan pertama, rasa gurihnya terasa seimbang: ada manis alami dari daging ikan dan udang, sedikit gigitan dari cumi, dan finishing yang bersih tanpa jejak amis. Saya menambahkan potongan cakwe untuk memberikan kontras tekstur—renyah di tepi, empuk menyerap kuah di tengah. Kecap asin dan taburan daun bawang membuat rasa semakin “bulat”, sedangkan lada putih memberi kehangatan pelan yang bertahan di tenggorokan. Aftertaste-nya ringan; kamu bisa lanjut aktivitas tanpa rasa berat di perut.

Baca Juga :  Tongariro Crossing Hike: Alpine National Park In New Zealand

Penyajiannya sederhana namun fungsional—mangkuk ukuran pas, sendok lebar, dan tisu tersedia. Saya habiskan 30–40 menit di lokasi: cukup untuk makan santai, menyeruput teh hangat, dan mengamati lalu-lalang pengunjung yang mulai mengisi meja menjelang pukul delapan.

Baca Juga : Rekomendasi Wisata Di Magelang


Informasi Praktis

  • Waktu paling ramai: 07.00–09.00 (arus tamu hotel dan pekerja area Kuta–Tuban).
  • Parkir motor/mobil: Tepi jalan; usahakan datang lebih pagi agar lebih mudah.
  • Sudah berdiri sejak: ±2000-an (terasa dari alur kerja dapur yang rapi dan menu yang fokus).

Ngobrol Singkat dengan Karyawan – Bubur Seafood

Saya sempat bertanya ringan pada staf di sela jam sarapan. Berikut ringkasannya:

  • Varian paling laris: Bubur gaya Hong Kong dengan mix seafood (ikan + udang + cumi).
  • Porsi anak: Ada porsi lebih kecil atau bisa minta topping dipisah agar mudah disesuaikan selera anak.
  • Topping favorit: Telur pitan, cakwe, dan irisan ikan; beberapa tamu suka tambah jahe untuk sensasi hangat.
  • Pembayaran: QRIS tersedia, selain tunai dan kartu—praktis buat wisatawan domestik.

Komparasi Ringkas

Kalau membandingkan dengan Bubur 99 atau Bubur Sapo, keunggulan Warung Laota di Tuban ada pada konsistensi tekstur bubur gaya Hong Kong dan variasi topping seafood yang fokus. Bubur 99 cenderung bermain pada pilihan lauk lokal yang lebih luas, sementara Bubur Sapo kerap mengandalkan kuah kental dengan sensasi “rumahan”. Pilihan memang soal selera: bila kamu mencari bubur laut dengan tekstur halus dan rasa gurih bersih, Laota relatif unggul; kalau ingin rasa lebih “medhok” atau lauk harian non-seafood, dua kompetitor tadi juga patut dicoba.

Baca juga : Membatik Jogja: 7 Keseruan Workshop Kekinian bagi Wisatawan Muda


Tips Kunjungan

  1. Datang lebih pagi (sebelum 07.30) jika kamu ingin suasana lebih tenang dan parkir lebih mudah.
  2. Strategi pesan: mulai dari bubur Hong Kong seafood, tambah pitan dan cakwe untuk komposisi rasa–tekstur seimbang; minta jahe bila kamu suka sensasi hangat yang menonjol.
  3. Untuk keluarga/anak: minta porsi kecil dan topping terpisah agar lebih mudah diatur; suhu bubur bisa diminta agak didinginkan sedikit.
  4. Waktu tunggu rata-rata 5–10 menit; ketika antrian memanjang, siapkan pesanan dari awal agar giliranmu cepat.
  5. Pembayaran QRIS tersedia—berguna saat kamu baru mendarat atau belum menukar uang kecil.
  6. Jika kamu habis olahraga di Pantai Kuta, pilih bubur yang tidak terlalu kental agar lebih ringan di perut.
Baca Juga :  Kenapa Sunrise Bukit Lebih Magis? Belajar dari Gereja Ayam di Borobudur

Kesimpulan

Warung Laota (Tuban) memberikan apa yang saya cari di pagi Kuta: semangkuk bubur hangat dengan tekstur halus, rasa gurih bersih, dan proses saji yang cepat. Lokasinya ramah untuk kamu yang bergerak di sekitar Kuta–Legian, terutama bila ingin sarapan ringkas sebelum beraktivitas. Putusan saya: Wajib—tiga klue kunci: hangat, gurih, cepat.


Apakah cocok untuk sarapan cepat?
Ya. Waktu tunggu rata-rata 5–10 menit dan menu mudah dipersonalisasi.

Apakah ada porsi anak?
Ada, atau kamu bisa minta topping dipisah untuk porsi yang lebih ramah anak.

Jam terbaik datang?
Datang sebelum 07.30 untuk hindari puncak 07.00–09.00.

Bisa bayar non-tunai?
Bisa. QRIS tersedia, selain pembayaran lain.

Keep exploring...

Places to travel

Gereja Ayam bukit rhema 2024

Gereja Ayam

Bukit Rhema Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Rp 25.000,-
Wanawatu

Wanawatu

Sumberwatu, Sambirejo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55572
Rp 50K - Rp 150K

Kedai Bukit Rhema

Bukit Rhema Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Rp 10K - Rp 100K

Related Articles

Destinasi wisata saat libur lebaran di Wonosobo: rute santai dari Telaga Menjer sampai Borobudur Di Tahun 2026

Rute santai destinasi wisata saat libur lebaran di Wonosobo: Telaga Menjer, Candi Arjuna, Kawah Sikidang, lanjut Borobudur & makan di Kedai Bukit Rhema.

Cafe Magelang Kota untuk WFC Yang Nyaman: WiFi Kencang dan Banyak Colokan

Magelang kota punya ritme yang unik. Tidak terlalu ramai seperti kota besar, tapi juga...

Wisata Hits Magelang: Bukit Rhema Gereja Ayam Kurahan Kembanglimus Kabupaten Magelang Jawa Tengah

bukit rhema gereja ayam kurahan kembanglimus kabupaten magelang jawa tengah, Wisata yang sangat indah akan pemandangan Gunung dan Perbukitan sekitar.

Review Kurnia Seafood Jogja: Rekomendasi Kuliner Keluarga

Menemukan Permata Kuliner Seafood Jogja untuk KeluargaYogyakarta memang identik dengan Gudegnya yang manis dan...

Menikmati Senja dan Kopi di Kaki Pegunungan Menoreh: 4 Spot Favorit untuk Melepas Penat

Aku lagi butuh napas sebentar dari bising kota, jadi aku memilih melipir ke Pegunungan Menoreh di barat Yogyakarta.

Ini Tips Ke Punthuk Setumbu Dan Waktu Kedatangan Persiapan Penting yang Perlu Travellers Tahu

Panduan Punthuk Setumbu Sunrise: jam datang terbaik, barang wajib dibawa, tips menikmati kabut Borobudur tanpa keteteran + ide itinerary pagi.

Spot Foto Instagramable Magelang Jogja: Pengalaman Cari Foto Seru dari Bukit hingga Pantai

Cari spot foto instagramable Magelang Jogja: Bukit Rhema, Svargabumi, Obelix Hills, Taman Sari, Pantai Drini, Parangtritis, hingga Heha Ocean View.

Menjelajahi Sisi Lain Borobudur: Spot Foto Dan Cafe Magelang 2026 Untuk Libur Lebaran Yang Authentic Dan Berbeda

Rekomendasi cafe Magelang 2026 untuk libur Lebaran, cocok nongkrong keluarga, spot foto estetik, dan lokasi favorit dekat Candi Borobudur.