
Day 6: Ngopi Pagi di Seniman Coffee Studio Ubud
Day 6 – Ubud – pagi itu saya jalan pelan di sekitar penginapan, badan masih agak berat tapi kepala sudah penuh rencana keliling museum. Sebelum lari ke jadwal padat, saya putuskan untuk berhenti dulu dan ngopi santai, sekalian cari camilan ringan yang nggak bikin terlalu kenyang. Ngopi pagi di Seniman Coffee Studio Ubud muncul sebagai pilihan pertama: roastery, manual brew, dan lokasinya yang masih di area tengah Ubud. Begitu duduk, aroma kopi yang baru digiling langsung naik, bikin saya pelan-pelan menurunkan bahu dan menikmati momen pagi sebelum hari mulai ramai.
Kenapa Saya Memilih Ngopi di Seniman Coffee Studio?
Di Ubud, pilihan coffee shop sebenarnya banyak, tapi saya lagi pengin sesuatu yang lebih dari sekadar tempat foto-foto. Saya cari tempat yang benar-benar serius sama kopi, punya roastery sendiri, dan nyaman untuk duduk santai sekitar 30–40 menit sebelum lanjut ke museum.
Seniman Coffee Studio menjawab semua itu. Mereka bukan cuma “cafe lucu” untuk nongkrong, tapi juga roastery dan studio kopi yang main di kopi single origin dari berbagai daerah di Indonesia, disajikan dengan berbagai teknik manual brew.
Lokasinya ada di Jl. Sri Wedari, masih sangat dekat dengan pusat Ubud, tapi suasananya sedikit mundur dari keramaian jalan utama. Begitu masuk, yang terasa bukan suasana kaku, tapi vibes kreatif: kursi plastik yang diubah jadi kursi goyang, meja kayu panjang untuk sharing space, dan rak-rak berisi beans serta peralatan kopi. Lihat lokasi: Google Maps.
Buat Kamu yang suka eksplor rasa kopi Indonesia atau butuh tempat “warming up” sebelum maraton museum dan galeri, Seniman Coffee Studio ini tipe tempat yang bikin pagi berjalan pelan tapi produktif.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Magelang
Pengalaman Ngopi Pagi: Kopi, Pastry, dan Alur dari Pesan sampai Seruput – Seniman Coffee Studio Ubud
Saya datang sekitar jam 09.00 pagi, pas jam mulai ramai tapi belum sampai penuh sesak. Ini jam yang enak kalau Kamu mau menikmati suasana tanpa terlalu banyak suara bising. Di jam 09.00–11.00, lalu-lalang tamu mulai terasa, sebagian datang untuk sarapan ringan, sebagian lagi sudah buka laptop dan mulai kerja.

Proses Pesan: Simple dan Nggak Bikin Bingung – Seniman Coffee Studio Ubud
Begitu duduk, staf mengarahkan saya ke menu kopi yang lumayan lengkap. Ada espresso based, manual brew, dan beberapa pilihan single origin. Karena ini roastery, pilihan single origin-nya cukup variatif, biasanya ada dari beberapa daerah Indonesia yang sedang mereka highlight. Saya pilih satu single origin dengan profil rasa yang lebih cerah untuk menemani pagi, plus satu pastry yang tampak baru keluar dari display.
Waktu tunggu pesanan sekitar 5–10 menit, masih sangat masuk akal untuk ukuran manual brew di jam yang mulai sibuk. Sambil menunggu, saya sempat memperhatikan suasana bar: barista sibuk menimbang, menggiling, dan menyeduh kopi dengan ritme tenang. Tidak terburu-buru, tapi juga tidak lambat menyebalkan.
Baca juga: Babi Guling Ibu Oka Ubud: Ikoniknya Kulit Renyah di Tengah Ramainya Pusat Kota
Saat Kopi Tersaji: Aroma Dulu, Baru Teguk – Seniman Coffee Studio Ubud
Kopi datang di atas tray kecil dengan cangkir, air pendamping, dan camilan kecil di sampingnya. Penyajian seperti ini membuat pengalaman ngopi terasa lebih “niat”, bukan sekadar menu tambahan.
- Aroma: Begitu cangkir didekatkan, wangi kopi langsung terasa jelas. Ada hint fruity ringan, dengan sedikit aroma floral yang halus.
- Rasa pertama: Tegukan pertama cukup bright tapi tidak sampai membuat kaget. Asamnya terkontrol, lalu perlahan muncul manis alami yang bersih di akhir.
- Body & aftertaste: Body-nya medium, cukup untuk terasa “ada” di mulut, tapi tetap ringan untuk pagi hari. Aftertaste-nya bersih, tidak meninggalkan pahit yang mengganggu.
Untuk pastry, saya pilih satu yang teksturnya flaky dan satu lagi yang lebih ke arah roti lembut. Keduanya berperan sebagai teman kopi, bukan bintang utama. Teksturnya cukup, tidak berlebihan manis, sehingga nggak mengalahkan rasa kopi yang jadi fokus utama. Kombinasi kopi single origin dengan pastry ringan begini pas banget dinikmati pagi–pagi sebelum Kamu benar-benar mulai aktivitas berat.
Suasana di Dalam: Antara Studio Kopi dan Ruang Kreatif – Seniman Coffee Studio Ubud
Interiornya terasa seperti perpaduan studio dan ruang kerja santai. Ada coffee flavor wheel besar di dinding, rak-rak berisi peralatan kopi, sampai etalase beans yang dijual untuk dibawa pulang.
Kursi model rocking chair khas Seniman juga cukup ikonik. Rasanya beda saja ketika Kamu menyeruput kopi sambil duduk di kursi yang pelan-pelan bisa bergoyang, apalagi kalau Kamu tipe yang suka “ngerem sebentar” sebelum lanjut aktivitas. Ditambah lagi, dengan jendela terbuka dan posisi yang sedikit masuk dari jalan, suasana paginya berasa cukup seimbang antara hidup dan santai.
Durasi ideal di sini sekitar 30–40 menit kalau Kamu hanya ngopi dan makan pastry, sebelum lanjut ke museum atau eksplor Ubud. Cukup untuk bikin badan “nyala”, tapi tidak bikin jadwal harimu mundur jauh.
Informasi Praktis: Jam Ramai, Parkir, dan Sejarah – Seniman Coffee Studio Ubud
Biar kunjungan Kamu lebih enak, ini beberapa catatan praktis dari pengalaman di lapangan plus informasi yang tersedia publik:
- Enak didatangi saat: Pagi, terutama sekitar pukul 09.00–11.00 kalau Kamu suka suasana hidup tapi masih terkendali.
- Jam ramai: 09.00–11.00 biasanya sudah mulai terisi oleh wisatawan, digital nomad, dan warga lokal yang sarapan.
- Parkir motor/mobil: Area parkir cukup terbatas karena lokasinya berada di jalan yang tidak terlalu besar. Kalau bawa mobil, sebaiknya datang lebih pagi atau siap sedikit jalan kaki.
- Sudah berdiri sejak: Sekitar akhir 2000-an dan berkembang sebagai roastery dan coffee studio yang dikenal di kalangan pecinta kopi. Salah satu sumber menyebutkan Seniman Coffee Studio sudah aktif sejak 2009, sebelum kemudian makin dikenal luas di awal 2010-an.
Buat Kamu yang terbiasa berkendara sendiri di Bali, poin parkir ini penting banget. Datang pagi jelas lebih aman sebelum jalanan Ubud tambah padat.
Ngobrol Singkat dengan Karyawan: Tentang Single Origin, Menu Non-Kopi, dan Beans To-Go – Seniman Coffee Studio Ubud

Saya sempat ngobrol sebentar dengan salah satu staf di bar, sekadar memastikan beberapa hal yang sering jadi pertanyaan banyak orang ketika memilih coffee shop:
- Single origin favorit di sini apa?
Mereka biasanya punya beberapa pilihan beans lokal, dan sering merekomendasikan single origin yang sedang “on rotation” dengan karakter rasa yang paling menonjol. Kalau Kamu bingung, cukup bilang suka rasa yang lebih fruity atau lebih cokelat/nutty, mereka akan bantu pilihkan. - Kalau saya datang dengan teman yang tidak minum kopi, ada menu non-kopi?
Ada. Selain kopi, biasanya tersedia minuman seperti teh, chocolate drink, atau minuman dingin lain. Jadi aman kalau Kamu datang bareng teman atau pasangan yang bukan coffee person. - Beans to-go gimana sistemnya?
Mereka menjual biji kopi dalam kemasan, bisa digiling sesuai alat seduh di rumah atau dibawa dalam bentuk whole beans. Cocok buat Kamu yang ingin bawa pulang sedikit “rasa Ubud” ke rumah. - Pembayaran bisa pakai apa saja?
Umumnya mereka menerima pembayaran tunai dan kartu/debit, dan di banyak tempat di Ubud kini juga mulai mendukung pembayaran digital. Jadi Kamu nggak perlu terlalu khawatir kalau tidak bawa banyak uang tunai, tapi tetap lebih aman sedia cash secukupnya.
Ngobrol sebentar begini berguna untuk tahu karakter tempatnya. Staf di Seniman cenderung informatif tanpa terasa menggurui, dan itu membantu Kamu yang baru mulai belajar soal kopi.
Komparasi Ringkas: Seniman Coffee Studio vs Anomali Ubud – Seniman Coffee Studio Ubud
Ubud punya beberapa coffee shop yang cukup dikenal, salah satunya Anomali Ubud. Keduanya sama-sama bermain di ranah kopi serius, tapi punya feel yang sedikit berbeda.
- Dari sisi konsep:
Seniman Coffee Studio terasa seperti “studio” kopi, dengan karakter artsy, kreatif, dan fokus ke eksplorasi rasa. Anomali cenderung bergaya coffee chain spesialis kopi Indonesia dengan pendekatan yang lebih familiar untuk banyak orang. - Dari sisi suasana:
Seniman terasa lebih intimate, dengan detail desain seperti rocking chair dan meja komunal yang bikin Kamu mudah mengamati proses seduh. Anomali punya kesan sedikit lebih “rapi” dan modern. - Dari sisi pengalaman pagi:
Untuk ngopi santai sebelum museum, Seniman terasa pas karena memberi pengalaman yang cukup khas: roastery, manual brew, dan suasana kreatif di tengah Ubud. Kalau Kamu ingin eksplor lebih banyak cafe, Anomali bisa jadi opsi lain di hari berbeda, bukan sekadar pengganti.
Intinya, bukan soal mana yang “lebih bagus”, tapi mana yang cocok dengan mood dan rencana harian Kamu. Di hari saya mau mulai dengan tempo pelan dan fokus rasa, Seniman terasa lebih cocok.
Tips Kunjungan: Biar Pagi Kamu di Seniman Coffee Studio Lebih Maksimal – Seniman Coffee Studio Ubud
Supaya pengalaman kopimu menyatu dengan itinerary Ubud, beberapa tips ini bisa Kamu pakai:
- Datang lebih pagi sebelum jam 10.00.
Di jam ini, tempat biasanya sudah mulai terisi tapi belum penuh. Enak kalau Kamu mau duduk di rocking chair atau dekat jendela sambil melihat aktivitas jalan. - Sesuaikan pilihan kopi dengan rencana hari.
Kalau Kamu mau jalan kaki keliling museum dan galeri, satu cangkir single origin atau manual brew sudah cukup bikin badan “nyala” tanpa terlalu berat di perut. - Pakai pastry sebagai camilan, bukan pengganti makan besar.
Karena tujuan Kamu masih mau lanjut eksplor, pastry di sini cocok jadi pengantar kopi, bukan sarapan super berat. Kalau Kamu tipe yang mudah lapar, bisa tambahkan menu lain tapi tetap jaga porsi. - Siapkan opsi parkir cadangan.
Karena parkir terbatas, terutama untuk mobil, pertimbangkan untuk parkir sedikit lebih jauh dan jalan kaki sebentar. Atau, kalau Kamu menginap tidak terlalu jauh, bisa sekalian jalan santai ke sini. - Tanya langsung soal rekomendasi beans.
Kalau Kamu tertarik beli beans untuk dibawa pulang, manfaatkan kesempatan ngobrol singkat dengan barista. Tanyakan beans apa yang lagi fresh roast dan cocok untuk alat seduh di rumah. - Enak juga untuk yang bawa kerja ringan.
Kalau Kamu tipe digital nomad, pagi hari di sini cocok untuk kerja ringan 1–2 jam sebelum lanjut jalan. Namun karena fokus artikel ini ngopi singkat sebelum museum, saya pribadi memilih hanya menikmati 30–40 menit tanpa buka laptop.
Jadi, Layak Nggak Ngopi Pagi di Sini Sebelum Keliling Ubud? – Seniman Coffee Studio Ubud
Kalau Kamu mencari kopi dan pastry di Ubud yang bukan cuma “ikut tren”, Seniman Coffee Studio menurut saya layak masuk itinerary hari keenam Kamu. Dari aroma kopi yang jelas terasa beda, suasana santai yang kreatif, sampai detail kecil seperti penyajian manual brew dan pilihan beans to-go, semuanya membantu membangun pengalaman ngopi yang utuh.
Buat saya, tiga hal yang paling menempel adalah:
- Aroma kopi single origin yang terasa jelas dari awal sampai akhir.
- Santai-nya suasana pagi, pas untuk duduk sebentar sebelum mulai eksplor museum dan galeri.
- Sentuhan kreatif di ruang dan konsep, dari kursi goyang sampai rak-rak beans yang bikin Kamu ingin tahu lebih banyak tentang kopi Indonesia.
Jadi kalau Kamu sedang di Ubud dan butuh satu spot ngopi pagi yang bisa mengisi energi tanpa menghabiskan waktu, Seniman Coffee Studio adalah salah satu tempat yang pantas Kamu datangi, minimal sekali, untuk merasakan bagaimana kopi dan ruang kreatif bisa berjalan bersama dalam satu pagi yang tenang.



