Day 2 – Jogja – Siang setelah Alun-Alun Kidul, saya jalan pelan sambil mikir satu hal: butuh makan yang “ngisi” tapi bukan yang berat banget di kepala. Waktu itu saya lapar sedang, dan yang saya cari kuah pekat—yang bisa bikin badan langsung terasa hangat dan fokus balik. Pilihan saya jatuh ke Nasi Brongkos Handayani Alkid, karena dari cerita orang-orang, kuahnya terkenal kaya rasa dan ada empalnya. Begitu sampai, suasananya sudah ramai tapi masih terasa teratur.

Baca Juga : Sarapan Gudeg di Gudeg Yu Djum Wijilan Saat Masih Kenyang Sarapan Hotel
Kenapa saya mampir ke Brongkos Handayani?
Kalau kamu habis keliling area Alun-Alun Kidul, biasanya badan capek tipis-tipis: panas, jalan kaki, lalu mulai pengin makan yang “mantap”. Saya datang dengan ekspektasi sederhana: pengin brongkos yang kuahnya pekat, bumbunya nendang, dan dagingnya nggak pelit.
Yang bikin Brongkos Handayani menarik buat saya adalah dua hal yang kelihatan konsisten dari pengalaman di tempat: kuahnya pekat dan ada opsi empal yang bikin sepiring nasi brongkos Jogja terasa “lengkap”. Buat kamu yang suka kuliner klasik Jogja, ini tipe menu yang rasanya nggak aneh-aneh—lebih ke “rumah” dan rapi.
Momen makan: pekatnya dapat, gurihnya nempel
Begitu pesanan datang, yang pertama saya notice adalah kuahnya: kental, berwarna gelap, dan aromanya langsung keluar. Teksturnya terasa “berat” tapi tetap nyaman—bukan yang bikin eneg, lebih ke kaya bumbu dan santan yang matang.
Di suapan awal, rasa gurihnya dominan, lalu bumbu pelan-pelan muncul di belakang. Ini tipe kuah yang enak kalau kamu makan pakai ritme pelan: nasi disendok, kuah disiram sedikit, lalu baru masukin lauknya. Kalau kamu suka brongkos yang punya karakter kuat, versi di sini condong ke khas dan klasik.
Untuk empalnya, saya suka karena dia jadi penyeimbang kuah: lebih “padat” dan bikin sepiringnya terasa lebih bernilai. Buat saya, ini bukan sekadar makan siang cepat—lebih cocok kalau kamu memang niat menikmati menu khas Jogja.
Alur pesan–tunggu–saji juga jelas. Saya memesan, lalu menunggu sekitar 10–15 menit sampai makanan tersaji. Untuk jam siang, tempo segini menurut saya masih masuk akal, apalagi kalau kamu datang saat ramai.
Suasana & pelayanan: ramai tapi tetap kebaca alurnya
Saya datang di jam makan siang, dan kamu perlu siap dengan suasana yang hidup. Meski ramai, saya masih bisa lihat alurnya: orang pesan, duduk, menunggu, lalu makanan datang bergantian. Ini penting, karena tempat yang ramai tapi “nggak jelas” biasanya bikin capek duluan—di sini saya merasa alurnya masih bisa diikuti.
Durasi saya di lokasi sekitar 35–45 menit. Cukup buat makan tenang, minum, dan memastikan rasa yang saya rasakan itu konsisten sampai suapan terakhir.
Lihat Lokasi : Google Maps
Info praktis yang perlu kamu tahu sebelum berangkat
Biar kunjunganmu lebih enak, ini catatan yang saya dapat dari pengalaman langsung:
- Waktu paling enak untuk makan: Siang (pas banget habis aktivitas sekitar Alkid)
- Jam ramai: 12.00–14.00 (kalau kamu anti keramaian, usahakan datang sebelum 12.00)
- Parkir motor/mobil: Tepi jalan (lebih aman kalau kamu siap cari spot dan jangan mepet jam puncak)
- Sudah berdiri sejak: ±1970-an (vibes-nya memang terasa seperti warung legendaris yang stabil)
- Waktu tunggu: 10–15 menit (bisa lebih padat kalau kamu datang pas jam 12 lewat)
Ngobrol singkat dengan karyawan (yang kepakai buat kamu)

Saya sempat tanya hal-hal yang biasanya bikin pengalaman makan lebih jelas, terutama kalau kamu baru pertama datang:
- Bagian daging favorit: karyawan menyebut ada bagian favorit yang sering dicari, jadi kalau kamu punya preferensi daging tertentu, boleh tanya dari awal.
- Pedas bisa nggak? bisa—kalau kamu suka ada tendangan pedas, kamu bisa minta disesuaikan.
- Porsi anak: bisa dipertimbangkan; kalau bawa anak, kamu bisa tanya porsi yang lebih aman atau berbagi satu porsi dulu.
- Jam paling padat: tetap di rentang 12.00–14.00, jadi kalau kamu kejar makan cepat, hindari jam ini.
Komparasi ringkas: dibanding Brongkos Bu Padmo, bedanya di mana?
Kalau kamu pernah coba Brongkos Bu Padmo, anggap saja ini perbandingan yang halus: keduanya sama-sama main di “brongkos klasik”. Bedanya, dari pengalaman saya di Handayani, rasa pekat dan gurihnya terasa jadi fokus utama.
Jadi kalau kamu tipe yang mengejar kuah yang “berbobot” dan empal sebagai pelengkap yang bikin kenyang rapi, Handayani bisa jadi pilihan yang pas. Sementara kalau kamu punya preferensi gaya bumbu tertentu, kamu bisa jadikan dua tempat ini sebagai “pairing” untuk dicoba di dua hari berbeda.
Baca Juga : Rekomendasi Wisata Di Magelang
Tips kunjungan biar makanmu lebih lancar
Biar kamu nggak keburu lapar di tempat, ini strategi yang menurut saya paling realistis:
- Datang sebelum jam 12.00 kalau kamu pengin suasana lebih longgar.
- Kalau datang 12.00–14.00, siap parkir tepi jalan dan jangan berharap super cepat.
- Kalau bawa anak, pertimbangkan sharing dulu—kuahnya pekat, jadi lebih aman kalau dicoba pelan.
- Minta pedas sesuai selera dari awal, biar rasanya pas buat kamu.
Jadi wajib gak nih?
Wajib — (pekat, gurih, klasik).
Kalau kamu lagi di area Alkid siang-siang dan pengin nasi brongkos yang kuahnya benar-benar terasa “niat”, ini tempat yang aman buat didatangi.



