Halo Travellers! Setiap kali aku melintasi jalur antara Semarang dan Yogyakarta, ada satu kota yang selalu berhasil membuatku menepi sejenak. Bukan hanya karena pemandangan Gunung Merapi dan Merbabu yang megah di kejauhan, tapi juga karena aroma manis yang seolah memanggil dari deretan toko oleh-oleh di sepanjang jalan utamanya. Ya, Magelang memang punya daya tarik tersendiri, terutama lewat ragam makanan khas Magelang yang sudah melegenda dan sulit untuk diabaikan begitu saja.
Berbicara tentang Magelang, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada kemegahan Candi Borobudur. Namun, bagi para pencinta kuliner seperti aku, Magelang juga dikenal sebagai rumah bagi salah satu makanan khas Magelang yang ikonik, yaitu Getuk Trio. Rasanya belum lengkap kalau mampir ke kota ini tanpa membawa pulang kotak-kotak berisi getuk berlapis tiga warna ini. Pengalamanku mencicipi Getuk Trio selalu membawa kesan yang personal, seolah sedang menikmati sepotong sejarah dalam setiap gigitannya.
Mungkin bagi sebagian orang, getuk hanyalah olahan singkong biasa yang bisa ditemukan di pasar-pasar tradisional mana pun. Namun, Getuk Trio punya tempat spesial sebagai makanan khas Magelang karena kehangatan teksturnya, cita rasa manis yang lembut, dan cerita panjang di balik namanya yang ikonik. Mari kita mengobrol lebih dalam tentang apa yang membuat camilan satu ini begitu dicari oleh banyak orang.
Baca juga : 5 Tempat Makan untuk Buka Puasa dengan Nuansa Alam Di Magelang
Mengenal Lebih Dekat Sosok Getuk Trio yang Ikonik

Kalau Travellers melihat ke dalam kotak Getuk Trio, salah satu makanan khas Magelang yang paling mudah dikenali, hal pertama yang akan menarik perhatian adalah tampilannya yang rapi. Sesuai namanya, “Trio”, getuk ini terdiri dari tiga lapisan warna yang cantik: biasanya putih di bagian atas dan bawah, dengan lapisan cokelat di tengahnya, atau terkadang kombinasi krem, cokelat, dan merah muda yang lembut. Tampilan berlapis ini menjadi ciri khas getuk trio Magelang sekaligus identitas kuat dari jajanan tradisional Magelang yang sudah dikenal lintas generasi.
Bahan dasarnya sangat sederhana, yaitu singkong. Namun, jangan salah, tidak sembarang singkong bisa diolah menjadi getuk singkong Magelang yang berkualitas. Aku pernah berbincang dengan salah satu pengrajin lokal, dan mereka menjelaskan bahwa pemilihan singkong sangat krusial dalam menjaga mutu kuliner khas Magelang ini. Singkong pilihan biasanya dipanen pada usia tertentu agar menghasilkan tekstur yang “memprul” atau empuk, tetapi tetap padat saat ditumbuk.
Singkong tersebut kemudian dikukus hingga empuk, lalu dihaluskan bersama gula pasir dan sedikit santan atau mentega untuk memberikan sentuhan rasa gurih yang khas. Proses ini menjadikan Getuk Trio sebagai salah satu kuliner legendaris Magelang dengan tekstur yang sangat halus, nyaris seperti pasta padat namun tetap menghadirkan sensasi serat singkong yang lembut di lidah. Manisnya pun pas, tidak berlebihan, sehingga wajar jika oleh-oleh khas Magelang ini sering kali habis tanpa terasa, apalagi saat dinikmati bersama segelas teh hangat.
Asal-usul Getuk Trio ini pun punya nilai historis yang menarik dalam perjalanan makanan khas Magelang. Konon, kudapan yang kini dikenal sebagai kuliner legendaris Magelang ini mulai populer sejak tahun 1940-an dan dipelopori oleh Hj. Nie Hook Biauw. Nama “Trio” sendiri bukan hanya sekadar merujuk pada jumlah lapisan warnanya, tetapi juga pada tiga bersaudara dalam keluarga sang perintis. Berangkat dari sebuah dapur sederhana di Magelang, resep getuk trio Magelang ini bertahan melintasi zaman dan tetap konsisten hingga sekarang, menjadikannya salah satu ikon kuliner Magelang yang terus dicari sebagai oleh-oleh khas Magelang.
Baca juga : Prasmanan Kedai Bukit Rhema: Resto Borobudur dengan Masakan Jawa dan Makanan Tradisional
Apa yang Membuatnya Berbeda dari Getuk Lainnya?

Sering kali aku ditanya oleh teman-teman sesama Travellers, “Apa sih bedanya Getuk Trio dengan getuk yang biasa kita beli di pasar?” Jawabannya terletak pada detail proses pembuatannya. Jika getuk pasar atau getuk lindri biasanya memiliki tekstur yang agak kasar karena hanya ditumbuk sekadarnya, Getuk Trio melewati proses penggilingan yang berulang kali. Hasilnya? Tekstur yang sangat halus dan konsisten, hampir menyerupai kue modern namun tetap mempertahankan karakteristik tradisionalnya.
Dari segi penyajian, Getuk Trio juga tampil lebih eksklusif. Kalau getuk biasa sering kali disajikan dengan parutan kelapa di atasnya, Getuk Trio justru tampil “polos” tanpa taburan apa pun. Kenapa? Karena rasa gurihnya sudah menyatu di dalam adonan berkat penggunaan santan atau margarin dalam proses pengolahannya. Ini membuatnya lebih praktis untuk dinikmati di mana saja tanpa takut berantakan karena parutan kelapa.
Selain itu, nilai historis dan branding khas Magelang juga menjadi pembeda yang kuat. Getuk Trio bukan sekadar makanan, melainkan identitas kota. Setiap kali aku melihat kemasannya yang klasik, aku langsung teringat pada suasana tenang kota Magelang. Brand ini sudah begitu melekat sehingga seolah-olah Getuk Trio adalah standar emas bagi kualitas getuk di Indonesia.
Sebuah Warisan yang Terjaga

Satu hal yang aku kagumi adalah bagaimana produsen Getuk Trio tetap mempertahankan cara-cara tradisional di tengah gempuran teknologi makanan modern. Mereka tetap mengutamakan kualitas bahan baku tanpa menggunakan pengawet kimia yang berlebihan. Itulah sebabnya, Getuk Trio biasanya hanya bertahan sekitar dua sampai tiga hari di suhu ruang. Bagi sebagian orang mungkin ini kekurangan, tapi bagiku, ini adalah jaminan kesegaran dan keaslian bahan.
Alasan Kuat Membawa Getuk Trio Sebagai Oleh-Oleh
Kenapa sih harus Getuk Trio yang dibawa pulang? Alasan pertama adalah keaslian dan legendanya. Membawa Getuk Trio untuk keluarga di rumah rasanya seperti membawakan mereka sepotong cerita dari Jawa Tengah. Ada rasa bangga tersendiri saat kita memberikan oleh-oleh yang punya sejarah panjang dan masih dicintai hingga sekarang.
Kedua, tentu saja karena cita rasanya yang unik dan universal. Aku merasa jarang sekali menemukan orang yang tidak suka dengan rasa manis legitnya. Anak-anak menyukainya karena warnanya yang menarik dan teksturnya yang lembut, sementara orang tua menyukainya karena mengingatkan mereka pada cita rasa jajanan masa kecil yang autentik.
Ketiga, kemasannya yang sangat khas. Getuk Trio biasanya dikemas dalam kotak karton dengan desain yang cukup konservatif namun berkesan mewah pada masanya. Ukuran kotaknya pun beragam, mulai dari yang kecil untuk konsumsi pribadi hingga kotak besar yang pas untuk dibagikan ke tetangga atau rekan kerja. Setiap potong getuk di dalamnya biasanya juga dilapisi plastik tipis, sehingga tidak lengket satu sama lain dan tetap terjaga kebersihannya.
Bagi Travellers yang suka bereksperimen, Getuk Trio ini juga enak lho dinikmati dengan cara yang sedikit berbeda. Kadang aku suka memasukkannya sebentar ke dalam kulkas agar terasa dingin dan sedikit lebih padat, lalu memakannya perlahan. Rasanya jadi seperti menikmati dessert dingin yang mewah namun tetap membumi.
Membawa Pulang Kenangan Manis dari Magelang
Perjalanan ke Magelang memang selalu memberikan banyak cerita, entah itu dari megahnya Borobudur, hijaunya perbukitan Menoreh, hingga lembutnya Getuk Trio. Menikmati getuk ini bukan hanya soal mengenyangkan perut, tapi soal menghargai proses kreatif orang-orang terdahulu dalam mengolah hasil bumi yang paling sederhana, yaitu singkong, menjadi sesuatu yang punya nilai tinggi.
Jadi, kalau Travellers sedang berada di Magelang atau hanya sekadar melintas, jangan ragu untuk mampir ke toko oleh-oleh resminya. Harganya sangat terjangkau untuk ukuran kualitas dan sejarah yang ditawarkan. Lagipula, berbagi kebahagiaan lewat makanan adalah salah satu cara terbaik untuk menutup perjalanan, bukan?
Semoga cerita pengalamanku kali ini bisa membantu Travellers dalam memilih buah tangan saat berkunjung ke Jawa Tengah. Sampai jumpa di perjalanan kuliner berikutnya, dan jangan lupa untuk selalu mencicipi kearifan lokal di setiap tempat yang kalian kunjungi!



