HomeBlogTravelTempat Makan Non Halal Malioboro : Bakmi Ketandan Yang Bikin Balik Lagi

Tempat Makan Non Halal Malioboro : Bakmi Ketandan Yang Bikin Balik Lagi

Ada banyak alasan kenapa orang selalu balik ke Malioboro. Ada yang datang buat belanja, ada yang cuma mau jalan santai malam-malam sambil lihat suasana Jogja yang nggak pernah benar-benar tidur. Tapi kalau aku jujur, tiap ke Jogja, Malioboro itu cuma pintu masuk. Daya tarik sesungguhnya justru ada di balik gang-gang kecilnya. Dan setiap kali kaki ini sampai di kawasan itu, ada satu nama yang selalu muncul di kepala: Ketandan.

Buatku, inilah sisi Jogja yang bikin perjalanan terasa lebih personal. Bukan cuma ramai, bukan cuma ikonik, tapi juga punya lapisan cerita. Dari jalan besar yang sibuk, lalu belok sedikit ke kawasan pecinan yang punya nuansa berbeda, dan akhirnya duduk di meja makan sederhana sambil menunggu sepiring bakmi panas datang. Sederhana, iya. Tapi justru itu yang bikin susah move on.

Kalau kamu sedang cari tempat makan non halal Malioboro, aku akan bilang: langsung arahkan langkah ke Bakmi Ketandan. Bukan karena tempat ini sedang viral sesaat, tapi karena auranya memang sudah punya magnet sendiri.

Kenapa setiap ke Jogja aku selalu kembali ke Malioboro-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Malioboro memang seperti pusat gravitasi Jogja. Mau kamu datang naik kereta, menginap di pusat kota, atau sekadar punya satu malam kosong, ujung-ujungnya kawasan ini selalu terasa menggoda. Yang aku suka, Malioboro itu bukan cuma soal jalan utama. Di sekitarnya ada lapisan-lapisan kecil yang justru lebih menarik untuk dijelajahi perlahan.

Ketandan adalah salah satu bagian yang paling aku tunggu. Kawasan ini berada di sekitar Malioboro, tepat di utara Pasar Beringharjo, dan dikenal sebagai kawasan pecinan tua yang punya sejarah kuat dalam perkembangan ekonomi dan budaya Tionghoa di Yogyakarta. Beberapa bangunannya masih menyimpan campuran gaya China, Jawa, dan Eropa, jadi suasananya terasa beda bahkan sebelum kamu duduk untuk makan.

Buatku, momen terbaik itu justru saat habis menikmati riuh Malioboro, lalu pelan-pelan masuk ke Ketandan. Tempo jalannya berubah. Vibenya juga berubah. Rasanya seperti pindah dari area wisata yang serba cepat ke sudut kota yang lebih punya karakter.

Apa yang bikin Ketandan terasa beda dari Malioboro pada umumnya-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Aku suka tempat yang punya identitas. Ketandan punya itu.

Begitu masuk ke kawasan ini, atmosfernya langsung terasa lebih intim. Ada rasa klasik yang nggak dibuat-buat. Gapura, bangunan lama, jejak perdagangan lama, dan deretan kuliner yang bikin kamu pengin berhenti satu-satu. Ketandan sejak lama dikenal sebagai kawasan pecinan di pusat Yogyakarta, dengan sejarah komunitas Tionghoa yang tumbuh di sana sejak abad ke-19. Kawasan ini juga dikenal sebagai sentra perdagangan dan berada tak jauh dari Titik Nol sampai Pasar Beringharjo, jadi secara lokasi memang enak sekali dijangkau sambil jalan kaki dari Malioboro.

Baca Juga :  Transit Seru di Rest Area Pekalongan: Ngopi Cantik di Starbucks

Yang aku suka, Ketandan bukan kawasan yang terasa dipoles berlebihan. Ia tetap hidup sebagai bagian dari kota. Jadi pengalaman makan di sini terasa lebih organik. Kamu bukan sekadar datang ke “tempat hits”, tapi seperti ikut masuk ke satu potongan Jogja yang memang terus bernapas.

Kenapa Bakmi Ketandan jadi tempat makan non halal Malioboro favoritku-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Jawabannya simpel: karena tempat ini punya rasa yang melekat lebih lama daripada ekspektasi awal.

Bakmi Ketandan sudah lama dikenal sebagai salah satu kuliner Tionghoa populer di kawasan Ketandan (Restoran jogja tripadvisor non halal). Ulasan pengunjung berulang kali menyebut menu-menu seperti bakmi, bihun, capcay, paklay, dan terutama nasi goreng kekian sebagai andalan, dengan porsi yang cenderung besar dan rasa yang konsisten bikin orang rela antre.

Tapi kalau aku ceritakan dari sisi rasa pengalaman, yang bikin tempat ini menempel di kepala itu bukan cuma menunya. Ada sensasi makan di tempat yang nggak berusaha terlihat terlalu modern, tapi justru kuat di karakter. Kamu tahu tempat-tempat yang begitu makanan datang, suasana sekitar langsung menghilang sebentar? Nah, Bakmi Ketandan punya efek itu.

Aku suka tempat makan yang tidak terlalu banyak gimmick. Di sini, fokusnya ya makanan. Suara wok, aroma tumisan, piring yang datang panas, meja yang cepat penuh, orang-orang yang kelihatan sudah tahu mau pesan apa. Buatku itu tanda bagus. Tempat yang disukai bukan karena dekorasi, tapi karena orang percaya rasanya.

tempat makan non halal malioboro
tempat makan non halal malioboro

Menu apa yang paling layak dipesan saat pertama kali datang – Tempat Makan Non Halal Malioboro

Kalau aku datang lapar dan ingin pengalaman yang paling “Bakmi Ketandan”, pilihanku biasanya begini:
bakmi goreng untuk rasa utama, pangsit goreng atau pelengkap renyah kalau ada, lalu satu sayur tumis atau capcay buat penyeimbang. Dan kalau datang rame-rame, nasi goreng kekian wajib masuk meja. Dari banyak cerita pengunjung, justru nasi goreng inilah yang sering bikin orang ingin balik lagi.

Yang aku suka dari bakmi model begini adalah rasanya cenderung gurih, bukan manis berlebihan. Jadi tetap nyaman dimakan banyak. Ada rasa wok hei yang bikin aromanya lebih hidup. Makan malam di Jogja mendadak terasa punya agenda yang sangat jelas: habiskan piring, lalu bilang dalam hati, “Oke, ini enak.”

Berapa harga Bakmi Ketandan dan apa yang perlu disiapkan-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Soal harga, ini salah satu alasan kenapa tempat ini tetap dicari. Di listing pemesanan online, beberapa menu utama tercatat di kisaran Rp28.000 sampai Rp36.000, seperti nasi goreng sekitar Rp28.000, bakmi dan bihun sekitar Rp29.000, capcay sekitar Rp35.000, dan paklay sekitar Rp36.000. Ulasan media dan pengunjung juga menyebut kisaran umum mulai dari Rp25.000 atau sekitar Rp30.000–Rp40.000 per porsi, dengan catatan porsinya termasuk besar.

Buatku, harga seperti ini masih terasa sepadan untuk lokasi sekelas Malioboro dan karakter rasa yang memang punya penggemar sendiri. Apalagi kalau kamu datang berdua atau bertiga dan bisa pesan beberapa menu untuk sharing. Justru lebih seru, karena kamu bisa mencicipi lebih dari satu jenis masakan.

Satu hal yang perlu disiapkan: jangan datang dengan ekspektasi “makan cepat lalu lanjut.” Tempat seperti ini lebih cocok buat kamu yang rela memberi waktu sedikit lebih banyak demi rasa yang memang dicari.

tempat makan non halal malioboro
tempat makan non halal malioboro

Kapan waktu terbaik datang supaya dapat meja tanpa antre panjang – Tempat Makan Non Halal Malioboro

Nah, ini bagian pentingnya.

Bakmi Ketandan memang terkenal dengan antreannya. Beberapa ulasan lama sampai baru menyebut antre panjang sebagai hal yang sangat umum, terutama kalau datang pada jam makan malam. Ada yang menyarankan menelepon lebih dulu sekitar satu jam sebelumnya, dan ada juga yang menyebut kalau datang sekitar pukul 19.00, waktu tunggu bisa mencapai satu sampai satu setengah jam.

Baca Juga :  Makanan di Magelang Kota: Rekomendasi Kuliner Paling Dicari

Masalahnya, jam buka di berbagai platform tidak selalu sama. Ada listing yang menulis mulai sekitar 17.00, ada yang 17.15, ada yang 17.45, bahkan kanal pemesanan online menampilkan 18.00. Jam tutup pun bervariasi antara 22.00 hingga 00.00 tergantung platform. Karena itu, cara paling aman adalah menganggap tempat ini buka sore hingga malam, lalu cek ulang di hari yang sama sebelum berangkat.

Kalau aku boleh kasih tips paling praktis: datang lebih awal dari jam makan malam utama. Jangan tunggu sampai terlalu malam. Atau, kalau kamu memang ngincer makan santai tanpa stres, hubungi dulu sebelum berangkat. Ini trik paling masuk akal buat dapat meja tanpa terlalu lama menunggu.

Kenapa tempat ini bikin aku ingin balik lagi-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Karena Bakmi Ketandan punya satu kualitas yang susah dibuat-buat: memorability.

Ada tempat makan yang enak saat dimakan, tapi habis itu selesai. Ada juga tempat makan yang setelah kamu pulang, rasanya masih ikut jalan. Buatku, Bakmi Ketandan masuk kategori kedua. Bukan cuma karena bakminya, tapi karena seluruh konteksnya ikut bekerja: malam di Jogja, habis jalan di Malioboro, masuk ke pecinan Ketandan, lalu makan di tempat yang punya sejarah, reputasi, dan penggemar loyal.

Dan mungkin itu inti dari artikel ini. Aku tidak sedang bilang ini satu-satunya tempat yang wajib kamu datangi. Tapi kalau kamu mencari tempat makan non halal Malioboro yang punya rasa kuat, karakter kawasan yang hidup, dan pengalaman yang terasa “Jogja banget” tanpa jadi generik, Bakmi Ketandan sulit untuk diabaikan. Reputasinya sebagai kuliner populer di kawasan Ketandan memang bukan muncul dari satu dua postingan, tapi dari pola ulasan yang terus mengulang hal yang sama: antre, porsi besar, menu klasik, dan rasa yang bikin orang balik.

Setelah kenyang di Jogja, ke mana enaknya lanjut besok-Tempat Makan Non Halal Malioboro

Kalau kamu seperti aku, perjalanan enak itu bukan yang berhenti di satu kota. Setelah malam yang padat rasa di Jogja, justru enak sekali lanjut ke Magelang keesokan harinya.

Aku pribadi suka membayangkan itinerary yang mengalir seperti ini: malamnya puas kulineran di Ketandan, paginya jalan ke arah Borobudur dan sekitarnya. Jadi energi liburannya tetap terjaga, tapi suasananya berubah. Dari city walk dan kuliner pecinan, bergeser ke perbukitan, udara yang lebih pelan, dan pilihan tempat makan dengan vibe yang sangat berbeda.

Makanya, sebelum pulang, aku biasanya sudah simpan satu bacaan lagi: rekomendasi kuliner Magelang dari Jogja. Dan jujur saja, di kepala aku sudah ada satu nama yang masuk list berikutnya: Kedai Bukit Rhema.

Kalau kamu suka cerita perjalanan yang tidak cuma berhenti di satu spot, ini tipe rute yang akan terasa memuaskan. Kenyang di Jogja, lalu lanjut cari suasana baru di Magelang. Rasanya pas. Nggak terburu-buru, tapi juga nggak kehilangan momentum.

Jadi ya, tiap kali orang tanya kenapa aku selalu balik ke Malioboro, jawabanku mungkin terdengar sederhana: karena ada Bakmi Ketandan di dekat sana. Tapi sebenarnya lebih dari itu. Ada kota yang selalu hidup, ada kawasan yang punya sejarah, ada piring yang selalu berhasil menghibur, dan ada alasan kecil untuk kembali lagi.

Dan sering kali, alasan kecil seperti itulah yang justru membuat sebuah perjalanan terasa paling berkesan.

CTA
Kalau kamu suka cerita kuliner yang personal, hangat, dan jujur seperti ini, follow journey Joana di Instagram. Siapa tahu destinasi makan berikutnya adalah tempat yang juga akan bikin kamu balik lagi.

FAQ

Apakah Bakmi Ketandan termasuk tempat makan non halal di Malioboro?

Ya. Beberapa ulasan pengunjung secara jelas menyebut penggunaan kekian dan daging babi pada menu-menu utamanya, jadi tempat ini tidak cocok untuk yang mencari makanan halal.

Bakmi Ketandan ada di area mana?

Lokasinya di Jl. Bhayangkara No. 17, kawasan Ketandan, masih sangat dekat dari Malioboro dan utara Pasar Beringharjo.

Menu favorit di Bakmi Ketandan apa?

Menu favorit di Bakmi Ketandan apa?

Berapa kisaran harga makan di Bakmi Ketandan?

Kisaran harga yang muncul di berbagai sumber berada di sekitar Rp25.000 sampai Rp40.000 per porsi, tergantung menu dan platform.

Bagaimana cara menghindari antre panjang di Bakmi Ketandan?

Datang lebih awal dan, kalau memungkinkan, hubungi dulu sebelum berangkat. Ulasan pengunjung menyebut cara ini cukup membantu mengurangi waktu tunggu.

Keep exploring...

Sunrise Gereja Ayam Borobudur: Lokasi, Harga Tiket & Tips Sunrise Instagramable

Nikmati sunrise Gereja Ayam Borobudur dengan suasana tenang, view perbukitan, harga tiket, lokasi, tips foto, dan panduan reservasi yang praktis.

Itinerary Wisata Borobudur 1 Hari: Sunrise, Candi, VW Safari, lalu Makan di Kedai Bukit Rhema

Rencana liburan 1 hari di Borobudur: mulai dari sunrise, lanjut ke candi, VW Safari, lalu kulineran santai di Kedai Bukit Rhema dengan suasana perbukitan.

Places to travel

Gereja Ayam bukit rhema 2024

Gereja Ayam

Bukit Rhema Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Rp 25.000,-
Wanawatu

Wanawatu

Sumberwatu, Sambirejo, Kec. Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55572
Rp 50K - Rp 150K

Kedai Bukit Rhema

Bukit Rhema Desa Karangrejo, Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Indonesia
Rp 10K - Rp 100K

Related Articles

Sunrise Gereja Ayam Borobudur: Lokasi, Harga Tiket & Tips Sunrise Instagramable

Nikmati sunrise Gereja Ayam Borobudur dengan suasana tenang, view perbukitan, harga tiket, lokasi, tips foto, dan panduan reservasi yang praktis.

Itinerary Wisata Borobudur 1 Hari: Sunrise, Candi, VW Safari, lalu Makan di Kedai Bukit Rhema

Rencana liburan 1 hari di Borobudur: mulai dari sunrise, lanjut ke candi, VW Safari, lalu kulineran santai di Kedai Bukit Rhema dengan suasana perbukitan.

OOTD Lebaran di Kedai Bukit Rhema: Foto-Foto Cantik Sambil Menikmati Suasana Borobudur

Cari tempat makan sekaligus spot foto di Borobudur? Kedai Bukit Rhema cocok untuk OOTD Lebaran, foto keluarga, dan menikmati suasana hangat di Magelang.

Jasa Pembasmi Rayap: Kenali Penyebab, Tanda-Tanda, dan Solusi Tuntas untuk Melindungi Bangunan Anda

Rayap adalah salah satu hama bangunan yang paling merugikan karena mampu merusak rumah, kantor,...

Jasa Bayar Credit Card: Cara Kerja, Biaya, dan Risikonya

Jasa bayar credit card di Magelang: cara kerja, biaya yang biasanya muncul, alasan orang memakainya, plus risiko dan tips aman sebelum memilih layanan.

Nasi Goreng Magelang: Cerita Santai Menikmati Malam di Kedai Bukit Rhema

Nikmati nasi goreng Magelang di Kedai Bukit Rhema: suasana sejuk kawasan Borobudur, cocok untuk keluarga/rombongan, dan pilihan menu yang beragam.

Makanan di Magelang Kota: Rekomendasi Kuliner Paling Dicari

Sedang cari makanan di Magelang kota yang sering direkomendasikan? Sop Snerek Pak Parto hadir dengan kuah hangat, tempat bersih, dan pelayanan cepat.

Tempat Makan di Wonosobo Saat Lebaran: Hangatnya Lontong Tetel di Udara Sejuk

Cari tempat makan di Wonosobo saat Lebaran? Ini cerita Lontong Tetel: suasana sejuk, cocok keluarga/rombongan, tips rute, parkir, spot foto tanpa ribet.