Kalau Travellers sedang merencanakan perjalanan ke arah Jawa Tengah, rasanya kurang lengkap kalau tidak menyempatkan mampir ke Magelang. Kota yang diapit gunung-gunung cantik ini punya suasana yang tenang dan udara yang cenderung sejuk. Tapi buat aku, daya tarik utama Magelang bukan cuma pemandangan alam atau kemegahan Candi Borobudur saja, melainkan kuliner Magelang yang punya karakter kuat. Salah satu yang selalu bikin rindu adalah Kupat Tahu Magelang. Kudapan sederhana yang terdiri dari ketupat, tahu goreng, tauge, kubis, dan siraman bumbu kacang encer ini punya perpaduan rasa manis, gurih, dan segar yang pas banget dinikmati kapan saja sebagai salah satu makanan khas Magelang.
Mencari kupat tahu di Magelang itu sebenarnya gampang-gampang susah. Gampang karena penjualnya ada di mana-mana, tapi susah karena setiap warung punya “tanda tangan” rasa yang berbeda-beda. Ada yang menonjolkan rasa manis legit khas Jawa, ada yang bumbunya lebih encer, hingga ada yang punya tekstur bakwan paling renyah. Berdasarkan beberapa kali kunjunganku ke kota ini, aku merangkum empat tempat yang menurutku punya karakter unik dan layak Travellers coba sebagai rekomendasi kupat tahu Magelang sesuai dengan selera masing-masing. Yuk, kita bahas satu per satu pengalamanku saat makan di sana dalam perjalanan wisata kuliner Magelang.
Baca juga : Sudut Estetik Jogja: Cafe Outdoor untuk Melamun & Berfoto – Where Jogja’s Visual Mood Comes Alive
Kupat Tahu Pojok: Merasakan Vibes Legendaris

Tempat pertama yang seringkali muncul di ingatan kalau bicara soal kuliner Magelang adalah Kupat Tahu Pojok. Lokasinya berada di area yang cukup ikonik, yaitu di sekitaran Alun-alun Magelang. Begitu masuk ke sini, Travellers akan langsung merasakan atmosfer “jadul” yang kental. Di dinding-dindingnya terpajang banyak foto tokoh penting hingga artis yang pernah mampir ke sini, menandakan kalau warung ini memang sudah punya nama sejak lama, tepatnya sejak tahun 1942.
Satu hal yang aku suka dari Kupat Tahu Pojok adalah keseimbangan rasanya. Bumbunya cenderung manis dan gurih, sangat khas masakan Jawa Tengah. Tahu yang digunakan sangat lembut dan digoreng dadakan, jadi masih terasa hangat saat beradu dengan siraman kuah kacangnya yang cair namun kaya rasa. Kalau Travellers suka dengan tekstur kupat yang pulen dan aroma bawang goreng yang melimpah, tempat ini bisa jadi pilihan utama. Warung ini buka mulai jam 08.00 sampai 18.00 WIB. Saranku, datanglah di pagi hari atau sore sekalian supaya tidak terlalu berdesakan dengan pengunjung lain, karena tempatnya memang tidak terlalu luas namun selalu ramai.
Baca juga : Kedai Bukit Rhema: Sejarah Dan Cerita Di Balik Layar
Kupat Tahu Dompleng: Penutup Manis Setelah dari Borobudur

Nah, kalau agenda utama Travellers adalah mengunjungi Candi Borobudur, ada satu warung yang lokasinya searah jalan pulang atau menuju pusat kota, yaitu Kupat Tahu Dompleng. Biasanya, setelah lelah berkeliling candi dan terpapar sinar matahari, perut pasti butuh asupan yang segar sekaligus mengenyangkan. Warung ini sering menjadi tempat singgah favoritku karena lokasinya yang strategis di daerah Blabak.
Kupat Tahu Dompleng punya ciri khas pada kuahnya yang terasa lebih ringan di lidah. Yang bikin aku sering teringat adalah potongan bakwan sayurnya yang tidak pelit. Bakwannya memberikan tekstur crunchy di tengah lembutnya tahu dan ketupat. Warung ini mulai melayani pelanggan dari jam 11.00 siang. Tapi Travellers harus hati-hati, jangan datang terlalu sore ya. Meskipun jadwalnya tertulis buka sampai habis, biasanya di jam-jam makan siang menuju sore, stoknya sudah menipis karena banyak diburu wisatawan maupun warga lokal. Menikmati sepiring kupat tahu di sini sambil melihat lalu lalang kendaraan di jalur utama Magelang-Yogyakarta memberikan sensasi santai tersendiri.
Kupat Tahu Pelopor: Pilihan Nyaman untuk Keluarga
Buat Travellers yang bepergian bareng keluarga besar atau menggunakan kendaraan roda empat, aksesibilitas tentu jadi pertimbangan penting. Kupat Tahu Pelopor menurutku adalah salah satu yang paling ramah untuk situasi seperti ini. Lokasinya berada di jalur utama, sehingga sangat mudah ditemukan tanpa perlu masuk ke gang-gang kecil. Area parkirnya pun cukup memadai, jadi tidak perlu pusing mencari tempat berhenti.
Secara rasa, Kupat Tahu Pelopor menawarkan profil rasa yang lebih universal. Tingkat kemanisannya tidak terlalu mendominasi, sehingga bagi yang tidak terlalu suka masakan terlalu manis pun tetap bisa menikmatinya dengan lahap. Yang menyenangkan lagi, warung ini buka lebih lama dari yang lain, yaitu dari jam 09.00 sampai jam 20.00 WIB. Jadi, kalau Travellers baru sampai di Magelang saat hari sudah mulai gelap dan ingin mencari makan malam yang tidak terlalu berat, tempat ini bisa jadi penyelamat. Suasananya yang bersih dan pelayanan yang relatif cepat membuat pengalaman makan bareng keluarga jadi lebih nyaman.
Kupat Tahu Pak Pangat: Untuk Penikmat Rasa yang Seimbang
Terakhir, ada Kupat Tahu Pak Pangat yang sering direkomendasikan oleh teman-teman asli Magelang. Warung ini punya basis penggemar setia yang cukup banyak. Salah satu alasannya karena racikan bumbu kacangnya yang terasa lebih “berani” dan tidak terlalu manis. Ada semburat rasa gurih yang lebih menonjol dibandingkan warung-warung lainnya. Potongan sayurannya, terutama kubis dan tauge, selalu terasa segar dan memberikan sensasi renyah saat dikunyah.
Aku punya sedikit tips kalau Travellers mau mencoba makan di sini: datanglah sebelum jam makan siang. Pak Pangat buka dari jam 08.00 sampai 18.00 WIB, tapi saat masuk jam 12.00 siang, tempat ini biasanya penuh sesak oleh pekerja kantoran dan warga sekitar. Antreannya bisa cukup panjang karena banyak juga yang memesan untuk dibawa pulang. Tapi menurutku, menunggu sebentar sebanding dengan rasa yang didapatkan. Jangan lupa tambahkan kerupuk kaleng yang tersedia di meja untuk menambah keseruan makan.
Tips Menikmati Kulineran di Magelang
Sebelum Travellers berangkat berburu kupat tahu, ada beberapa hal kecil yang mungkin bisa membantu perjalanan kuliner kalian jadi lebih maksimal. Pertama, hampir semua warung kupat tahu menyediakan tingkat kepedasan sesuai selera. Biasanya mereka menggunakan cabai rawit rebus yang diulek langsung di atas piring. Kalau tidak suka pedas, pastikan bilang “tidak pedas” sejak awal karena standarnya mereka memberikan sedikit cabai untuk penguat rasa.
Kedua, jangan ragu untuk menambah pelengkap seperti mendoan atau sate-satean jika tersedia. Beberapa warung menyediakan gorengan hangat yang cocok banget dicelupkan ke sisa kuah kacang kupat tahu. Ketiga, karena Magelang adalah kota yang santai, nikmatilah setiap suapannya tanpa terburu-buru. Itulah inti dari wisata kuliner di sini, yaitu menikmati kesederhanaan bahan lokal yang diolah dengan resep turun-temurun.
Setiap warung kupat tahu di Magelang punya cerita dan ciri khasnya masing-masing. Tidak perlu mencari mana yang paling baik, karena selera setiap orang pasti berbeda. Ada kalanya aku rindu yang manis di Pojok, tapi di lain waktu aku lebih memilih yang gurih di Pak Pangat. Yang jelas, kemanapun Travellers memilih untuk mampir, semangkuk kupat tahu hangat akan selalu jadi cara terbaik untuk menyapa kota Magelang. Jadi, warung mana yang kira-kira bakal Travellers tuju pertama kali?



