Day 3 – Jogja – malam habis belanja itu biasanya badan sudah capek, kaki pegal, dan kepala masih ramai. Saya waktu itu butuh hangat untuk tidur nyenyak, bukan yang berat-berat, tapi yang bikin badan “turun pelan” setelah seharian jalan. Di area Malioboro, saya memilih mampir ke Wedang Ronde Mbah Payem untuk cari minuman hangat yang sederhana. Begitu gelasnya datang, uap jahenya langsung kerasa “nempel” di hidung—pas untuk menutup malam.
Kenapa Saya Datang ke Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro, Bukan Langsung Pulang?
Jujur, saya datang karena saya suka ritual kecil sebelum tidur: sesuatu yang hangat dan ringan, biar badan lebih santai. Wedang ronde memang sering jadi penyelamat di malam Jogja, apalagi setelah aktivitas yang bikin energi terkuras. Di Wedang Ronde Mbah Payem, yang bikin saya yakin mampir itu kombinasi jahe hangat dan isian kacang—dua hal yang biasanya aman di perut, tapi tetap terasa “nggak hambar”.
Kalau kamu tipe yang habis keliling Malioboro lalu mendadak kedinginan (atau cuma pengin “dihangatkan” sebelum rebahan), konsepnya cocok: minuman malam yang fungsinya jelas, tanpa perlu bikin kenyang berlebihan.
Rasanya Gimana Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro? Ini yang Saya Rasakan di Tegukan Pertama
Saya datang malam, dan wedang ronde memang paling “kena” dimakan saat waktu seperti ini. Hangatnya bukan yang sekadar panas, tapi jahe yang punya karakter—menghangatkan tenggorokan sampai dada. Teksturnya cair, ringan, dan enak diminum pelan-pelan.
Bagian yang saya suka: isian kacangnya terasa jadi teman yang pas buat jahe. Ada sensasi gurih-manis yang bikin minumannya nggak “sendirian”. Aftertaste jahenya masih tertinggal sebentar, tapi tetap nyaman, bukan yang bikin tenggorokan kaget.
Dari sisi alur pesan sampai sajian, saya ngerasa semuanya praktis. Waktu itu saya menunggu sekitar 5–10 menit sampai pesanan datang—cukup cepat untuk ukuran kuliner malam yang biasanya ramai. Gelas disajikan hangat, dan saya langsung bisa lanjut “mode santai” tanpa nunggu lama.

Info Praktis Biar Kamu Nggak Kaget Pas Datang ke Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro
Kalau kamu pengin datang dengan lebih tenang, ini catatan yang saya rasakan di lapangan:
- Jam ramai: sekitar 19.00–22.00
- Parkir motor/mobil: umumnya tepi jalan (jadi siap-siap cari space dan tetap perhatikan keamanan/aturan setempat)
- Sudah berdiri sejak: — (saya tidak dapat info pastinya, jadi saya tulis netral)
Kalau kamu bawa kendaraan, saran saya: datang agak lebih awal dari jam ramai, atau minimal jangan pas puncak kalau kamu lagi pengin suasana yang lebih santai.
Lihat Lokasi: Google Maps
Ngobrol Singkat dengan Karyawan Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro: Saya Tanyain 4 Hal Ini
Saya sempat tanya beberapa hal simpel, yang biasanya kepake buat kamu yang mau mampir:
- Level jahe: bisa tanya preferensi rasa jahe yang kamu mau (biar nggak terlalu “nendang” atau justru pengin lebih berasa).
- Isi favorit: saya tanya isian yang paling sering dipilih, biar kalau kamu baru pertama kali nggak bingung.
- Tambahan roti: ada opsi tambahan roti kalau kamu pengin teman minum yang lebih “ngenyangin dikit”.
- Pembayaran: saya pastikan metode pembayarannya, biar nggak panik pas sudah selesai minum.
Buat saya, hal-hal kecil gini bikin pengalaman lebih enak, karena kamu bisa pesan sesuai selera dari awal.
Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro Dibanding Ronde Gladag, Bedanya Ada di Vibes dan Ritmenya
Kalau kamu pernah dengar Ronde Gladag (kompetitor sejenis), kamu mungkin sudah punya patokan soal wedang ronde di Jogja. Saya nggak mau membandingkan untuk menjatuhkan—dua-duanya bisa jadi pilihan tergantung kebutuhan.
Yang saya rasakan di Wedang Ronde Mbah Payem: ritmenya terasa pas untuk “penutup malam”. Cocok buat kamu yang ingin minum hangat sebentar, lalu lanjut pulang dan istirahat. Sementara tempat ronde lain di Jogja bisa saja punya suasana yang lebih ramai atau jadi titik nongkrong—jadi tinggal sesuaikan kamu lagi cari yang mana: “singgah sebentar” atau “nongkrong agak lama”.

Tips Kunjungan Versi Saya ke Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro (Biar Malammu Lebih Nyaman)
Beberapa tips kecil yang menurut saya kepake banget:
- Datang sebelum puncak ramai (sebelum 19.00 atau mendekati awal jam ramai) kalau kamu pengin duduk lebih tenang.
- Kalau sensitif jahe, langsung bilang dari awal kamu pengin jahe yang lebih mild. Ini ngaruh ke kenyamanan minum.
- Kalau kamu lapar tipis-tipis, pertimbangkan tambahan roti biar perut lebih “anteng” sampai tidur.
- Kalau bawa keluarga/anak, wedang ronde cenderung aman karena hangat dan ringan—tapi tetap perhatikan preferensi anak terhadap jahe.
Baca Juga: Sate Klathak Pak Pong Imogiri: Pengalaman Saya Roadtrip Malam yang “Smoky” dan Sederhana
Akhir dari Experience Ini: Jadi Wajib Gak Nih ke Wedang Ronde Mbah Payem Malioboro
Buat saya: Layak — (hangat, ringan, klasik).
Kalau kamu sedang di Malioboro malam-malam setelah belanja dan butuh penutup yang menenangkan, wedang ronde di sini bisa jadi pilihan yang masuk akal. Saya suka karena hangatnya terasa jelas, porsinya nggak bikin “berat”, dan rasanya klasik—pas buat bantu badan siap istirahat.
Kalau kamu tim “minum hangat dulu baru tidur”, ini bisa kamu masukin ke list.



