Bestie, hari ini aku mau cerita soal satu jam yang sering terlupa saat kita menyusun itinerary Jogja: jam makan malam. Siangnya kita sibuk menyusuri Malioboro, masuk ke Kraton, atau sekadar duduk di bangku pinggir jalan sambil mengamati orang lewat. Lalu langit mulai gelap, kaki mulai pegal, dan perut mulai bertanya, “Jadi malam ini makan apa?”
Untuk malam seperti itu, aku suka memilih tempat yang tidak menuntut banyak. Tidak perlu reservasi, tidak perlu berdandan, cukup duduk lesehan dan membiarkan hari selesai dengan sepiring makanan hangat. Salah satu nama yang terus muncul ketika orang membicarakan makan malam di Jogja adalah oseng mercon Bu Narti di Jalan KH. Ahmad Dahlan. Pedasnya memang terkenal, tapi tulisan ini bukan tentang tantangan pedas. Ini tentang bagaimana sepiring oseng mercon bisa jadi cara menutup hari yang menyenangkan, asal kamu datang dengan persiapan yang pas.
Kenapa oseng mercon cocok untuk ritme malam di Jogja
Jogja punya ritme malam yang khas. Setelah pukul enam sore, kota seperti berganti baju. Toko-toko di Malioboro masih terang, angkringan mulai menyalakan arang, dan warung-warung lesehan menggelar tikar di tepi jalan. Ada rasa santai yang membuat kita ingin berlama-lama.
Oseng mercon lahir dari suasana seperti itu. Menurut catatan detikFood, warung Bu Narti sudah berjualan sejak 1997 dan menjadi salah satu rujukan para pencinta pedas di Jogja. Nama “mercon” sendiri diambil dari petasan, karena sensasi pedasnya terasa seperti ledakan kecil di mulut. Bayangkan sepiring daging sapi dan koyor yang dimasak dengan rempah dan cabai rawit yang berlimpah, kuahnya merah pekat, lalu disantap dengan nasi putih hangat di bawah lampu tenda. Rasanya bukan sekadar makan, tapi bagian dari cerita malam itu.
Di mana tepatnya, dan seberapa jauh dari Malioboro
Warung oseng mercon Bu Narti ada di Jl. KH. Ahmad Dahlan No.107, Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta, tidak jauh dari Gang Purwodiningratan. Menurut kumparan, jaraknya sekitar 1 km dari Titik Nol Kilometer Jogja. Artinya, dari kawasan Malioboro atau Kraton, kamu tidak perlu menempuh perjalanan jauh. Naik becak, ojek daring, atau taksi online sama-sama masuk akal, tergantung seberapa lelah kakimu malam itu.
Patokan yang sering disebut adalah posisinya yang berseberangan dengan Warung Gulai Kepala Ikan dan bersebelahan dengan toko elektronik. Tetap pakai peta saat berangkat, karena di sepanjang Jalan KH. Ahmad Dahlan ada beberapa warung oseng mercon lain dengan nama berbeda. Pastikan papan nama yang kamu tuju memang Bu Narti.
Jam buka dan kapan sebaiknya datang
Menurut kumparan dan kabarjawa (2025), warung ini buka setiap hari sekitar pukul 16.00 sampai 23.00 WIB. Ada juga sumber yang menyebut jam buka mulai 17.00 atau 18.00, jadi anggap angka ini sebagai perkiraan dan cek ulang di Google Maps sebelum berangkat.
Kalau kamu ingin suasana yang lebih tenang, datanglah di awal jam buka atau justru agak larut. Jam makan malam utama biasanya paling ramai, dan antrean bisa terbentuk sebelum tikar penuh. Untuk solo traveler seperti aku, datang lebih awal juga berarti kamu bisa memilih tempat duduk yang nyaman, lalu pulang ke penginapan sebelum malam terlalu larut.

Menu dan harga yang perlu kamu tahu
Bintang utamanya tentu oseng-oseng mercon: daging sapi dan tetelan berbumbu rempah dengan cabai rawit yang banyak. Biasanya disajikan bersama nasi putih dan irisan mentimun. Selain itu, ada lauk goreng seperti ayam, puyuh, lele, ati ampela, babat, dan iso, yang bisa jadi teman makan kalau kamu ingin variasi.
Soal harga, perhatikan tahun pada angka berikut. Menurut kumparan (Desember 2023), nasi + oseng mercon Rp28.000, oseng mercon saja Rp23.000, lauk goreng sekitar Rp15.000 sampai Rp30.000, dan minuman sekitar Rp3.000 sampai Rp5.000. Harga di 2026 bisa saja sudah berbeda, jadi siapkan sedikit kelonggaran di dompet dan tanyakan harga sebelum memesan kalau kamu ingin lebih tenang.
Kalau kamu tidak terlalu kuat pedas
Bestie, jujur saja, oseng mercon memang dikenal sangat pedas, dan porsi pedasnya terkenal konsisten. Kalau kamu ingin versi yang lebih ringan, tanyakan langsung ke penjual dan jangan berasumsi. Kalau toleransi pedasmu rendah, ada beberapa cara supaya malam tetap menyenangkan:
- Pesan lauk goreng sebagai pendamping. Ayam atau puyuh goreng bisa jadi jeda di sela suapan oseng mercon.
- Ambil nasi dan mentimun lebih banyak. Keduanya membantu meredam rasa panas di mulut.
- Siapkan minuman. Teh manis hangat atau es teh biasanya jadi teman paling setia.
- Berbagi satu porsi. Kalau kamu datang berdua, coba berbagi satu porsi oseng mercon dulu sebelum memesan lagi.
Dan kalau kamu punya masalah lambung, dengarkan tubuhmu. Mencicipi sedikit pun sudah cukup untuk mengenal rasanya.
Suasana lesehan, parkir, dan hal kecil yang membantu
Warung ini berkonsep lesehan bertikar. Duduk di bawah, berbagi ruang dengan pengunjung lain, dan mendengar obrolan dari tikar sebelah adalah bagian dari pengalamannya. Pakai pakaian yang nyaman untuk duduk bersila, dan bawa tisu basah karena makan oseng mercon biasanya membuat tangan dan bibir ikut “bekerja keras”.
Parkir di sini terbatas di tepi jalan dengan juru parkir. Kalau kamu membawa kendaraan sendiri di jam ramai, bersiaplah memutar sebentar. Untuk solo traveler, ojek atau taksi daring sering jadi pilihan yang lebih praktis, apalagi kalau kamu berencana kembali ke kawasan Malioboro setelah makan. Kalau kamu belum punya rute untuk malam itu, aku pernah menulis tentang menyusuri Malioboro di malam hari dengan aman yang bisa kamu sambungkan dengan makan malam ini.

Oleh-oleh oseng mercon kemasan kaleng
Satu hal yang menarik, oseng mercon Bu Narti juga tersedia dalam kemasan kaleng. Menurut detikFood, versi kaleng ini cocok dijadikan oleh-oleh. Pilihan ini pas kalau ada orang di rumah yang penasaran dengan rasanya, atau kalau kamu ingin mengulang malam Jogja di dapur sendiri. Tanyakan ketersediaan dan harganya langsung di warung, karena stok bisa berbeda dari hari ke hari.
Menyambung malam dengan perjalanan esok hari
Banyak traveler menjadikan malam di Jogja sebagai jeda sebelum perjalanan berikutnya, misalnya ke Borobudur di Magelang. Kalau besok kamu ke sana, sisakan waktu untuk makan siang yang tenang di Kedai Bukit Rhema, kedai di kawasan Rumah Doa Bukit Rhema dengan pemandangan Perbukitan Menoreh, supaya hari berikutnya juga punya jeda yang menyenangkan.
Malam yang selesai dengan bibir panas dan hati hangat
Bestie, makan malam tidak selalu harus istimewa untuk terasa berkesan. Kadang yang kita butuhkan hanya tikar sederhana, lampu tenda, sepiring oseng mercon, dan waktu untuk menyadari bahwa hari ini sudah kita jalani dengan baik. Datang di jam yang pas, pesan sesuai kemampuan lidahmu, dan biarkan Jogja menutup harimu dengan caranya sendiri. Semoga malammu hangat, dan perjalananmu esok hari tetap ringan.


